RSUD
DR.
SOEDIRMAN KEBUMEN
BANGSAL BEDAH
Karya
Tulis Ilmiah ini diajukan Guna Melengkapi
Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan
Diploma III
Keperawatan
NAMA : CHARIS
NIM : A01502002
PROGRAM
STUDI DIII KPERAWATAN SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
TAHUN
2017 - 2018
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Dewasa ini banyak orang
yang sudah memiliki banyak kendaraan hampir setiap rumah memiliki berbagai
kendaraan (Angling, 2017). Dan yang menyebabkan
jalanan dipenuhi oleh kendaraan yang beresiko kecelakaan. Dari kecelakaan
itulah korban sering mengalami fraktur. Fraktur adalah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga
tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan
menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price
dan Wilson, 2007). Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi
ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Wong,
2007).
Menurut Helmi (2012),
fraktur ini berupa nyeri. Nyeri pada penderita fraktur bersifat tajam dan
menusuk, nyeri tajam juga biasanya ditimbulkan oleh infeksi tulang akibat
spasme otot atau penekanan pada syaraf sensoris. Penyebab utama dari fraktur
adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Dan yang sering dialami korban khususnya
yang mengalami fraktur pada bagian extermitas bawah.
Menurut WHO (2017)
kecelakaan lalu lintas menewaskan hampir 1,3 juta jiwa di seluruh dunia atau
3000 kematian setiap hari dan menyebabkan cedera sekitar 6 juta orang setiap
tahunnya, dimana pada tahun 2005 terdapat lebih dari tujuh juta orang meninggal
karena kecelakaan dan sekitar dua juta mengalami kecacatan fisik. Menurut
Depkes RI (2007) dalam Ropyanto (2011) kecelakaan di Indonesia berdasarkan
laporan kepolisian menunjukkan peningkatan 6,72 % dari 57.726 kejadian di tahun
2009 menjadi 61.606 insiden di tahun 2010 atau berkisar 168 insiden setiap hari
dan 10.349 meninggal dunia atau 43,15 %. Sebagian besar dari korban kecelakaan
mengalami fraktur.
Melihat
fenomena tersebut korban yang mengalami patah tulang
atau fraktur biasanya ditangani oleh masyarakat sekitar
untuk tindakan pertolongan pertama dengan cara membidainya, kemudian dibawa
menuju kerumah sakit untuk tindakan lebih lanjut atau penangan medis. Dalam
penangan medis biasanya korban dengan fraktur terbuka atau tertutup dilakukan
dengan tindakan operasi. Salah satu tindakan operasi ini dinamakan open reduction interna fixation (0rif).
ORIF adalah fiksasi
interna dengan pembedahan terbuka untuk mengistirahatkan fraktur dengan
melakukan pembedahan untuk memasukkan paku, screw, pen kedalam tempat fraktur
untuk menguatkan bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Fiksasi
interna sering digunakan untuk merawat fraktur pada tulang panggul yang sering
terjadi pada orang tua (Reeves, 2001).
Metode yang digunakan
dalam melakukan fiksasi interna harus sesuai keadaan sekrup kompresi
antar fragmen, plat dan sekrup : paling sesuai untuk lengan bawah, paku intra
medulla: untuk tulang panjang yang lebih besar, paku pengikat sambungan dan
sekrup: ideal untuk femur dan tibia, sekrup kompresi dinamis dan plat: ideal
untuk ujung proximal dan distal femur.
Sebelum
dilakukan tindakan operasi sebagian besar pasien yang belum pernah operasi
dalam kondisi sadar mengalami kondisi khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang,
dan gerakan tidak tenang. Kondisi tersebut biasanya disebut istilah cemas atau
ansietas. Cemas atau ansietas adalah suatu perasaan resah tidak menentu atau
rasa takut disertai respon otonomik yang pada banyak kasus, sumbernya tidak
spesifik atau tidak diketahui suatu perasaan takut karena antisipasi terhadap
bahaya suatu sinyal gangguan yang menandakan akan terjadi bahaya dan
memungkinkan individu untuk menghadapi ancaman dari bahaya tersebut (Taylor,
2010)
Cemas adalah perasaan
khawatir yang tidak jelas terhadap sumber yang seringkali tidak spesifik atau
tidak diketahui oleh individu (Maryam, 2013). Belakangan ini orang akan
mengalami cemas karena ketidaktahuan sesuatu yang terjadi missal cemas karena
frakur yang mungkin bisa menyebabkan lumpuh selamanya.
Untuk
mengatasi kondisi tersebut perlu adanya terapi keperawatan, terapi keperawatan
dikembangkan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri, salah satunya adalah
terapi kombinasi hipnosis 5 jari dan terapi musik. Hipnosis 5 jari adalah seni
komunikasi verbal yang bertujuan membawa gelombang pikiran pasien menuju trance (gelombong alpha/theta). Dikenal
juga dengan menghipnotis diri yang bertujuan untuk pemograman diri,
menghilangkan kecemasan dengan melibatkan saraf parasimpatis dan akan
menurunkan peningkatan kerja jantung, pernafasan, tekanan darah, kelenjar
keringat dll (Barbara, 2010).
Sedangkan
kombinasi dengan terapi musik adalah penggunaan musik atau elemen musik (suara,
irama, melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi
kualifikasi, terhadap pasien atau kelompok dalam proses membangun komunikasi
meningkatkan relasi interpersonal, belajar meningkatkan mobilitas,
mengungkapkan ekspresi, menata diri atau
untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya. Terapi musik juga mempunyai tujuan
untuk membantu mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi
pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi serta mengurangi
tingkat kecemasan pada pasien (Djohan, 2007).
Berdasarkan
penelitian yang pernah diterapkan menunjukan bahwa kombinasi terapi hipnosis 5
jari dengan terapi musik menurunkan tingkat kecemasan. Salah satu penelitian
yang dilakukan Evanglista, Widodo, & Widianti (2016) yakni pengaruh
hipnosis 5 jari terhadap tingkat kecemasan pasien sirkumsisi ditempat praktik
mandiri Mulyorejo Sukun Malang. Metode penelitian yang digunakan dengan one
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar
belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah
gambaran Penerapan Kombinasi Terapi Hipnosis 5 Jari dan Musik Klasik Pada klien
Pre Op Fraktur Femur untuk mengurangi rasa cemasnya ?
C.
TUJUAN
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum karya tulis ilmiah ini
adalah untuk mengetahui Penerapan terapi kombinasi hypnosis 5 jari dan musik
klasik pada klien post op fraktur femur yang mengalami kecemasan.
2.
Tujuan khusus
a.
Menggambarkan proses penerapan
asuhan keperawatan dengan menggunakan musik klasik pada klien fraktur femur.
b.
Memberikan gambaran
tentang intervensi asuhan keperawatan penerapan musik klasik pada gangguan
extermitas bawah pada klien raktur femur.
c.
Memberikan gambaran tentang
implementasi asuhan keperawatanpenerapan musik klasik pada gangguan extermitas
bawah pada klien raktur femur.
d.
Memberikan gambaran tentang
evaluasi asuhan keperawatan penerapan musik klasik pada gangguan extermitas
bawah pada klien raktur femur.
D. MANFAAT STUDI KASUS
Manfaat Keilmuan
a. Bagi Masyarakat
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat
memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat tentang asuhan
keperawatanpenerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien
raktur femur.
b. Bagi Pengemban Ilmu dan Teknologi Keperawatan
Diharapkan Karya Tulis ini dapat
digunakan sebagai masukan untuk menerapkan musik klasik pada gangguan extermitas
bawah pada klien raktur femur
c. Bagi Penulis
Sebagian sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman
khususnya di bidang kejiwaan pada asuhan
keperawatan penerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien
raktur femur
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Fraktur femur
2.1.1.1
Pengertian
Fraktur
adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan
dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak
disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau
tidak lengkap (Price dan Wilson, 2006). Fraktur adalah patahnya kontinuitas
tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang
diberikan kepadanya (Wong, 2004). Tulang Femur merupakan tulang pipa terpanjang
dan terbesar didalam tulang.kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan
dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris (Syaifudin,
2007).
Menurut
Helmi (2012), manifestasi klinik dari fraktur ini berupa nyeri. Nyeri pada
penderita fraktur bersifat tajam dan menusuk, nyeri tajam juga biasanya
ditimbulkan oleh infeksi tulang akibat spasme otot atau penekanan pada syaraf
sensoris. Penyebab utama dari fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Dan
yang sering dialami korban khususnya yang mengalami fraktur pada bagian extermitas
bawah.
2.1.1.2
Etiologi
Menurut
Wijaya dan Putri (2013), Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstremitas, organ
tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau
akibat fragmen tulang. Peyebab fraktur adalah :
a.
Kekerasan langsung
Kekerasan
langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur
sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang miring.
b. Kekerasan
tidak langsung
Kekerasan
tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat
terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam
jalur hantaran vektor kekerasan.
c. Kekerasan
akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang
terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan,
kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
2.1.1.3
Patofisiologi
Fraktur biasanya disebabkan oleh
trauma atau gangguan gaya dalam tubuh, seperti stress, gangguan fisik, gangguan
metabolik,dan patologik. Ketika terjadi fraktur kemampuan otot pendukung tulang
turun, baik terjadi pada fraktur yang terbuka ataupun fraktur tertutup.
Kerusakan pembuluh darah akibat fraktur akan menyebabkan pendarahan, yang
menyebabkan volume darah menurun, sehingga COP menurun dan mengakibatkan
terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma pada kasus fraktur akan
mengeksudasi plasma dan berpoliferasi menjadi edema lokal. Fraktur terbuka atau
tertutup sering mengenai serabut saraf, dimana hal ini dapat menimbulkan
gangguan rasa nyaman nyeri yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas
fisik terganggu. Fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan
dapat terjadi infeksi akibat terkontaminasi dengan udara luar dan kerusakan
jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit (Sylvia, 2006).
Dan fraktur biasanya menyebabkan klien mengalami kecemasan seperti cemasnya
akan di buly sama temen-temennya, tidak bisa sembuh, akan mengalami lumpuh.
2.1.1.4
Manifestasi klinis
Menurut Bararah dan Jauhar (2013),
ada beberapa manifestai klinis yaitu:
a. Nyeri
terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
b. Deformitas,
setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa)
c. Krepitasi,
saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
d. Bengkak,
pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
e. Peningkatan
temperatur lokal
f. Pergerakan
abnormal
g.
Echymosis
h. Kehilangan
fungsi, ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot
2.1.1.5
Komplikasi
Menurut Bararah dan Jauhar (2013),
komplikasi fraktur yaitu:
a.
Komplikasi umum
1) Shock terjadi karena
kehilangan banyak darah
2) Kerusakan
organ
3) Kerusakan
saraf
4) Emboli
lemak, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah.
b.
Komplikasi dini
1) Cedera
arteri
2) Cedera
kulit dan jaringan, sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan
3) Cedera
partement syndrom
c.
Komplikasi lanjut
1) Stiffnes
2) Degenerasi
sendi
3) Penyembuhan
tulang terganggu
4) Mal union
5) Nonunion
6) Delayed union
7)
Cross union
2.1.1.6
Pemeriksaan Penunjang
Menurut Wijaya dan Putri (2013),
pemeriksaan penunjang fraktur yaitu :
a. Pemeriksaan
rontgen
b. Scan
tulang, tonogram, scan CT/MRI
d. Arteriogram
e. Hitung
darah lengka
f. Kreatinin
g. Profil
koagulasi
2.1.1.7
Penatalaksanaan
Menurut Price (2006), prinsip
penanganan fraktur ada 4 yaitu:
a.
Rekognisi adalah menyangkut diagnosis fraktur
pada tempat kejadian dan
kemudian di rumah sakit
b.
Reduksi adalah usaha dan tindakan
memanipulasi fragmen-fragmen tulang
yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya
c.
Retensi adalah aturan umum dalam pemasangan
gips, yang dipasang untuk
mempertahankan reduksi harus melewati sendi diatas fraktur dan dibawah fraktur
d. Rehabilitasi adalah
pengobatan dan penyembuhan fraktur.
2.1.1.8
Asuhan Keperawatan
Menurut Wijaya (2013), asuhan keperawatan merupakan
penerapan pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah yang digunakan untuk
mengidentifikasi masalah-masalah, merencanakan secara sistematis dan
melaksanakannya secara mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan.
a. Pengkajian
Menurut Wijaya dan Putri (2013),
pengkajian fraktur antara lain:
1) Identitas
Pasien
Meliputi: nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama,
suku, bangsa, pendidikan,pekerjaan, tanggal masuk Rumah Sakit, diagnosa medis,
no. Registrasi.
2) Keluhan
Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah
rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dari lamanya
serangan. Unit memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri pasien
digunakan:
a)
Provoking inciden:
apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
prepitasi nyeri
b)
Quality of pain:
seperti apa rasa nyeri yang dirasakan pasien. Apakah seperti terbakar, berdenyut/menusuk.
c)
Region radiation, relief:
apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa
sakit menjalar atau menyebar dan dimana rasa sakit terjadi.
e)
Saverity (scale of pain):
seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan
pasien, bisa berdasarkan skala nyeri/ pasien menerangkan seberapa
jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
f)
Time:
berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari/ siang hari.
3) Riwayat
penyakit sekarang
Pada pasien fraktur/ patah tulang dapat disebabkan
oleh trauma/ kecelakaan, degeneratif dan patologis yaang didahului dengan
perdarahan, kerusakan jaringan sekirat yang mengakibatkan nyeri, bengkak,
kebiruan, pucat/perubahan warna kulit dan kesemutan.
4) Riwayat
penyakit dahulu
Apakah pasien pernah mengalami penyakit ini (fraktur
femur) atau pernah punya
penyakit yang menular/menurun sebelumnya.
5) Riwayat
penyakit keluarga
Pada keluarga pasien ada atau tidak yang menderita
osteoporosis, arthritis dan tuberkolosis
atau penyakit lain yang sifatnya menurun dan
menular.
6) Pola
fungsi kesehatan.
a) Pola
persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada fraktur akan mengalami perubahan/ gangguan pada
personal higiene, misalnya kebiasaan mandi, ganti pakaian, BAB dan BAK
b) Pola
nutrisi dan metabolisme
Pada fraktur tidak akan mengalami penurunan nafsu
makan, meskipun menu berubah misalnya makan dirumah gizi tetap sama sedangkan
di Rumah Sakit disesuaikan dengan penyakit dan diet pasien.
c) Pola
eliminasi
Kebiasaan miksi/ defekasi sehari-hari, kesulitan waktu
defekasi dikarenakan imobilisasi, feses warna kuning dan konsistensi defekasi,
pada miksi pasien tidak mengalami gangguan.
d) Pola
istirahat dan tidur
Kebiasaan pola tidur dan istirahat mengalami
gangguan yang disebabkan oleh nyeri, misalnya nyeri akibat fraktur.
e) Pola
aktivitas dan latihan
Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yaang
terkena (mungkin akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder pembengkakan
jaringan dan nyeri. Sehingga aktivitas dan latihan mengaalami perubahan/
gangguan akibat dari fraktur femur sehingga
kebutuhan pasien perlu dibantu oleh perawat/ keluarga.
f) Pola
persepsi dan konsep diri
Pada fraktur akan mengalami gangguan diri karena
terjadi perubahan pada dirinya, pasien takut dan cemas cacat seumur hidup/
tidak dapat bekerja lagi.
g) Pola
sensori kognitif
Nyeri yang disebabkan oleh kerusakan jaringan,
sedang pada pola kognitif atau cara berfikir pasien tidak mengalami ganguan.
h) Pola
hubungan peran
Terjadinya perubahan peran yang dapat mengganggu
hubungan interpersonal yaitu pasien merasa tidak berguna lagi dan menarik diri.
i) Pola
penanggulangan stress
Perlu ditanyakan apakah membuat pasien menjadi stress dan biasanya masalah dipendam
sendiri/ dirundingkan dengan keluarga.
j)
Pola reproduksi seksual
Bila pasien sudah berkeluarga dan mempunyai anak,
maka akan mengalami pola seksual dan reproduksi, jika pasien belum berkeluarga
pasien tidak akan mengalami gangguan.
k) Pola
tata nilai dan kepercayaan
Adanya kecemasan dan stress sebagai pertahanan dan pasien meminta perlindungan/ mendekatkan
diri dengan Tuhan.
b. Diagnosa
Keperawatan
Menurut Wijaya dan Putri (2013), diagnosa
keperawatan pada pasien fraktur antara lain:
1) Nyeri
berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2) Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
3) Ansietas
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
c. Intervensi
Keperawatan
Menurut Wijaya dan Putri (2013), intervensi
keperawatan:
1)
Diagnosa keperawatan 1: nyeri berhubungan dengan
terputusnya kontinuitas jaringan.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan
selama 3 X 24 jam diharapkan nyeri berkurang atau dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
(1) Nyeri
berkurang skala nyeri 1-3
(2) Klien
tampak rileks
(3) TTV
dalam batas normal:
(a) Tekanan Darah :
110-120/ 80-90 mmHg
(b) Nadi : 60-100 X/ menit
(c) Respiratory Rate :
18-24 X/ menit
(d) Suhu : 36,5-37,5 ˚C
Rencana Tindakan :
(1) Berikan
penjelasan pada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri.
Rasional: Dengan memberikkan penjelasan diharapkan
pasien tidak merasa cemas dan dapat melakukan sesuatu yang dapat mengurangi
nyeri.
(2) Ajarkan
pada pasien tentang teknik mengurangi rasa nyeri Rasional: Diperolehnya
pengetahuan tentang nyeri akan memudahkan kerjasama dengan asuhan keperawatan
untuk memecahkan masalah.
(3) Beri
posisi senyaman mungkin
Rasional: Memperlancar sirkulasi paada daerah luka/
nyeri
(4) Observasi
TTV
Rasional: Observasi TTV dapat diketahui keadaan umum
pasien
(5) Kolaborasi
dengan tim medis dalam pemberian analgesik Rasional: Obat analgesik diharapkan
dapat mengurangi nyeri
2) Diagnosa
keperawatan 2: Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri
saat mobilisasi
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan
selama 1 X 24 jam diharapkan pasien dapat melakukan aktivitas sebatas
kemampuan. Kriteria Hasil:
(1) Pasien
mengerti pentingnya melakukan aktivitas
(2) Pasien
bisa duduk, makan dan minum tanpa dibantu
(3) Pasien
dapat mempertahankan fungsi tubuh secara maksimal.
Rencana tindakan :
(1) Lakukan
pendekatan kepada pasien untuk melakukan aktivitas sebatas kemampuan
Rasional: Dengan pendekatan yang baik diharapkan
pasien akan lebih kooperatif dalam melakukan aktivitas.
(2) Observasi
sejauh mana pasien belum melakukan aktivitas Rasional: Dengan observasi
diharapkan pasien sudah bisa melakukan aktivitas
(3) Beri
motivasi pada pasien untuk melakukan aktivitas
Rasional: Dengan adanya motivasi diharapkan pasien
lebih bersemangat dalam melatih aktivitas.
3) Diagnosa
keperawatan 3: Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit.
Tujuan:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan cemas
berkurang.
Kriteria
Hasil:
(1) Pasien
tampak tenang (rileks)
(2) Pasien
istirahat dengan nyaman
(3) Pasien
dapat mempertahankan fungsi tubuh secara maksimal Rencana Tindakan:
(1) Jelaskan
kepada pasien mengenai prosedur tindakan pengobatan Rasional: Pasien kooperatif
mengenai prosedur tindakan pengobatan
(2) Kaji
tingkat kecemasan pasien
Rasional
: Dengan diberikan informasi bisa menurunkan cemas
(3) Observasi
TTV
Rasional:
Observasi TTV dapat diketahui keadaan umum pasien.
2.1.2
Kecemasan
2.1.2.1
Pengertian
Cemas
adalah suatu perasaan resah tidak menentu atau rasa takut disertai respons
otonomik yang pada banyak kasus, sumbernya tidak spesifik atau tidak diketahui;
suatu perasaan takut karena antisipasi terhadap bahaya; suatu sinyal gangguan
yang menandakan akan terjadi bahaya dan memungkinkan individu untuk menghadapi
ancaman dari bahaya tersebut (Taylor, 2010). Cemas adalah perasaan khawatir
yang tidak jelas terhadap sumber yang seringkali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu (Maryam, 2013). Belakangan ini orang akan mengalami
cemas karena ketidaktahuan sesuatu yang terjadi missal cemas karena frakur yang
mungkin bisa menyebabkan lumpuh selamanya.
2.1.2.2
Ciri-ciri cemas
Menurut
Hawari (2013), ciri-ciri cemas antara lain :
a. Cemas,
khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang
b. Memandang
masa depan dengan rasa was-was (khawatir)
c. Kurang
percaya diri, gugup apabila tampil dimuka umum (“demam panggung”)
d. Sering
merasa tidak bersalah, menyalahkan orang lain
e. Tidak
mudah mengalah, suka ”ngotot”
f. Gerakan
sering serba salah tidak tenang bila duduk, gelisah
g. Seringkali
mengeluh ini dan itu (keluhan-keluhan somatik), khawatir berlebihan terhadap
penyakit
h. Mudah
tersinggung, suka membesar-besarkan masalah yang kecil (dramatisasi)
i. Dalam
mengambil keputusan sering diliputi rasa bimbang dan ragu
j. Bila
mengemukakan sesuatu atau bertanya seringkali diulang-ulang
k. Kalau
sedang emosi seringkali bertindak histeri
2.1.2.3
Gejala klinis cemas
Menurut Hawari (2013) gejala klinis cemas antara
lain :
a. Cemas,
khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri mudah tersinggung
b. Merasa
tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut
c. Takut
sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
d. Gangguan
pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
e. Gangguan
konsentrasi dan daya ingat
f. Keluhan-keluhan
somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang pendengaran berdenging
(tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan
perkemihan, sakit kepala.
2.1.2.4
Proses Terjadinya Kecemasan
a. Faktor
Predisposisi Kecemasan
Stuart
& Laraia (2007) mengemukakan bahwa penyebab kecemesan dapat dipahami
melalui beberapa teori yaitu :
1) Teori
Psikoanalitik
Menurut
Freud (2007) kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian
id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seorang,
sedangkan superego mencerminkan hati nurani seorang dan dikendalikan oleh
normal budaya seorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang
bertentangan dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Teori
tingkah laku (Pribadi)
Teori
ini berkaitan dengan pendapat bahwa kecemasan adalah hasil frustasi, dimana
segala sesuatu yang menghalangi terhadap kemampuan seorang untuk mencapai
tujuan yang diinginkan dapat menimbulkan kecemasan. Faktor presipitasi yang
aktualmungkin adalah sejumlah stressor internal dan eksternal, tetapi
faktor-faktor tersebut bekerja menghambat usaha seorang untuk memperoleh
kepuasan dan kenyamanan. Selain itu kecemasan juga sebagai suatu dorongan untuk
belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan.
3) Teori
keluarga
Menunjukan
bahwa gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam satu keluarga
dan juga terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga.
4) Teori
biologis
Menunjukan
bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine.
Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-gamma neroregulator (GABA)
juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan
kecemasan, sebagaimana halnya dengan endorphin. Selain itu, telah dibuktikan
bahwa kesehatan umum seorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi
terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan
selanjutnya menurunkan kapasitas seorang untuk mengatasi stressor.
b. Faktor
presipitasi kecemasan
Menurut
Stuart & Laraia (2007), faktor pencetus mungkin berasal dari sumber
internal atau eksternal. Ada dua kategori faktor pencetus kecemasan, yaitu
ancaman terhadap integritas fisik dan terhadap sistem diri
1) Ancaman
terhadap integritas fisik
Ancaman
pada kategori ini meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau
menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
2) Ancaman
terhadap sistem tubuh
Ancaman
pada kategori ini dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi social
seorang.
2.1.3 Terapi kombinasi
hipnosis 5 jari dan musik
2.1.3.1
Pengertian
Hipnosis 5 jari adalah seni
komunikasi verbal yang bertujuan membawa gelombang pikiran klien menuju trance
(gelombang alpha/theta). Dikenal juga dengan menghipnotis diri yang bertujuan
untuk pemograman diri, menghilangkan kecemasan dengan melibatkan saraf parasimpatis
dan akan menurunkan peningkatan kerja jantung, pernafasan, tekanan darah,
kelenjar keringat dll (Barbara, 2010).
Sedangkan kombinasi dengan terapi
musik adalah penggunaan musik atau elemen musik (suara, irama, melodi, dan
harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi kualifikasi, terhadap
klien atau kelompok dalam proses membangun komu nikasi, meningkatkan
relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas, mengungkapkan ekspresi,
menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya. Terapi musik
juga mempunyai tujuan untuk membantu mengekspresikan perasaan, membantu
rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan
emosi serta mengurangi tingkat kecemasan pada pasien (Djohan, 2006).
2.1.3.2
Manfaat
Terapi hipnosis 5 jari ini
bermanfaat dalam penanganan kecemasan pada pasien karena dengan imajinasi
terbimbing maka akan membentuk bayangan yang akan diterima sebagai rangsangan
oleh berbagai indra maka dengan membayangkan sesuatu yang indah perasaan akan
merasa tenang. Ketegangan otot dan ketidaknyamanan akan dikeluarkan maka akan
menyebabkan tubuh menjadi rileks dan nyaman (Smeltzer & Bare, 2007). Dan
kombinasi Terapi musik klasik bermanfaat untuk membuat seseorang menjadi
rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih,
menurunkan tingkat kecemasan pasien pra operasi dan melepaskan rasa sakit dan
menurunkan tingkat stress. Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan adrenal
corticotropin hormon (ACTH) yang merupakan hormon stress (Bernatzky et al,
2011).
2.1.3.3
Alasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi yang memberi
gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan, disertai respon perilaku, emosional,
dan fisiologis. Individu yang mengalami kecemasan dapat memperlihatkan perilaku
yang tidak lazim seperti panik tanpa alasan, takut yang tidak beralasan
terhadap objek atau kondisi kehidupan, melakukan tindakan berulang-ulang tanpa
dapat dikendalikan, mengalami kembali peristiwa yang traumatik, atau rasa
khawatir yang tidak dapat dijelaskan atau berlebihan sehingga bisa mengganggu
kinerja individu, kehidupan keluarga dan lingkungan sosial (Videbeck, 2008).
Menurut Peni (2008, dalam Anita 2014) juga
menjelaskan bahwa penggunaan terapi non farmakologi yang lebih mudah dan murah
adalah terapi hipnosis 5 jari. Bila terapi ini dapat digunakan maka dapat
memulihkan otot otot sendi yang kaku serta dapat menurunkan kecemasan ini
dilakukan secara kesadaran dan disertai dengan kedisiplinan.
Terapi musik memiliki keunggulan lainya dengan
berjalan selama 25 menit menggunakan pengeras suara sesuai dengan prosedur (2008,dalam
Dwi 2015) bahwa Terapi sangat dianjurkan pada pasien yang mengalami cemas,
dengan menggunakan terapi non farmakologi ini, maka dapat menjaga dan
mengontrol tingkat kecemasan dijelaskan (Zainatun,2016)
BAB III
METODE STUDI KASUS
A.
Desain
Studi
Kasus
Desain yang digunakan pada penelitian
ini adalah menggunakan desain penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang
dilakukan dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskriptif tentang
suatu keadaan secara obyektif.
Kriteria pada penulisan studi kasus ini
adalah 1 pasien yang terdiagnosa fraktur
femur. Pada studi kasus ini, akan menerapkan
hasil penelitian
pada jurnal tentang kombinasi hipnosis
5 jari dengan terapi musik pada pada kecemasan, apakah ada
pengurangan kecemasan pada pasien sebelum
dan setelah dilakukan penerapan kombinasi terapi hipnosis 5 jari dengan musik.
B.
Subyek
Studi Kasus
Subyek studi kasus ini adalah
menunjuk 1 pasien yang terdiagnosa fraktur bagian extermitas bawah dengan
masalah gangguan kecemasan.
C.
Fokus
Studi Kasus
a. Kriteria inklusi terdiri dari :
1)
Pasien yang dirawat di Bangsal
Bedah RSUD Banyumas.
2)
Pasien yang mengalami kecemasan pada Pasien fraktur femur yang
berusia 40 tahun.
3)
Pasien yang dapat berkomunikasi dengan baik.
4)
Pasien yang memiliki
pendengran baik.
5)
Pasien yang
bersedia menjadi subyek studi kasus
b. Kriteria eksklusi terdiri dari :
1)
Pasien dan keluarga
yang menolak melanjutkan perlakuan sebelum selesai.
2)
Pasien dan keluarga
yang sudah menjadi responden dalam stud pendahuluan
tidak dimasukkan lagi.
D.
Definisi
Operasional
Kombinasi
terapi hipnosis 5 jari dengan musik klasik ini dilakukan selama 25 menit dan
diberikan terapi 1 kali sebelum pre op, terapi ini merupakan salah satu
tindakan penerapan keperawatan yang memberikan informasi atau menambah
pengetahuan yang dialami oleh Pasien mengenai kecemasan dan keluarga. Dilakukan
dengan memberikan 14 simptom kuisioner HARS kepada Pasien untuk mengetahui
skala kecemasannya.
E.
Instrumen
Studi Kasus
Instrumen studi kasus ini di adopsi oleh Pratiwi ( 2014 )
Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang
masing-masing kelompok dirinci dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
Alat ukur ini terdiri dari
kuesioner HARS yang
dinilai dari angka (score) 0-4 dengan 0 menunjukkan tidak ada
gejala (keluhan), 1 menunjukkan gejala ringan, 2 menunjukkan gejala sedang,
3menunjukkan gejala berat, dan 4 menunjukkan gejala berat sekali. Masing-masing
nilai angka (score) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari
hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan pasien, yaitu
dengan nilai kurang dari 14 menunjukkan tidak ada kecemasan, nilai 14 sampai 20
menunjukkan kecemasan ringan, nilai 21 sampai 27 menunjukkan kecemasan sedang,
nilai 28 sampai 41 menunjukkan kecemasan berat, dan 42 sampai 56 menunjukkan
kecemasan berat sekali.
F.
Metode
pengumpulan data
Metode
pengumpulan data studi kasus didapatakan dengan menggunakan teknik pengumpulan
data deskriptif dengan pendekatan studi literature, dimana penulisan ini
menjelaskan dan memaparkan dari jurnal yang didapatakan untuk mempermudah
penulisan asuhan keperawatan penerapan sebelum kelapangan. Setelah mendapatkan
1 pasien dengan gangguan kecemasan : fraktur femur situasional pada pasien kecelakaan
yang nantinya akan dilakukan asuhan keperawatan penerapan terapi hypnosis 5
jari kombinasi dengan terapi musik sebagai penulisan studi ksus, penulis
mengumpulkan data dari data subyektif dan data obtektif. Data subyektif
didapatkan dari ungkapan pasien langsung atau keluhan yang dirasakan pasien,
apabila pasien tidak dapat bicara maka data pasien didapatkan dari keluarga
pasien. Sedangkan data obyektif didapatakan dari data yang dapat diukur,
didapatkan data dari observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan
pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium,dll. Urutan langkah
terapi ini akan dimulai dengan pre orientasi, orientasi, fase kerja, terminasi.
G.
Lokasi
dan waktu studi kasus
a. Lokasi
Penulisan studi
kasus ini akan
dilaksanakan di RSUD
Banyumas bangsal bedah. Pemilihan lokasi
tersebut berdasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :
1) Lokasi
tersebut mudah dijangkau oleh penulis dengan harapan agar penulisan studi kasus
dapat berjalan dengan baik dan lancar.
2) Lokasi RS tersebut merupakan lokasi dimana rumah sakit
besar di kabupaten Banyumas, RS tersebut juga sering menjadi rujukan dari RS
lain maupun dari klinik atau puskesmas di sekitar Banyumas dan memiliki
frekuensi jumlah pasien yang banyak dengan masalah keperawatan yang
bermacam-macam.
b. Waktu
Pengambilan
studi kasus ini akan
dilaksanakan pada Agustus 2017 dengan minimal waktu pengelolaan pasien 5 hari.
H.
Analisis
data dan penyajian data
Analisa
data yang adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis. Analisa data
yang digunakan dalam studi kasus ini dengan distribusi frekuensi yang diolah
dari proses pengkajian pasien fraktur femur dan pengumpulan data yang
diperoleh, menyusun instrument, diagnose keperawatan, merencanakan keperawatan,
implementasi dan evaluasi. Kemudian penyajian dipaparkan dalam bentuk table.
I.
Etika
studi kasus
Dalam
penulisan karya tulis ilmiah ini penulis harus menggunakan etika sebagai
berikut (Loiselle et al 2007, Palestin 2009) :
1. Menghormati
harkat dan martabat manusia ( respect for
human dignity )
Salah satu
bentuk tindakan yang terkait dengan prinsip menghormati harkat dan martabat
manusia adalah dengan penulis mempersiapkan formulir persetujuan Pasien (informed consent) dan apabila Pasien
menolak penulis tidak akan memaksa
2. Menghormati
privasi dan kerahasiaan Pasien (respect
for privacy and confidentially)
3. Keadilan
dan inklusivitas (respect for justice and
inclusiveness)
Prinsip ini menjunjung tinggi keadilan pasien dengan
menghargai hak-hak memberikan perawatan secara adil dan hak menjaga privasi
pasien.
4. Memperhitungkan
manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing
harms and benefit)
Prinsip ini mengharuskan penulis untuk memperkecil
resiko dan memaksimalkan manfaat. Penulis harus memberikan manfaat kepada
pasien dan keluarga pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Price
A.S dan Wilson M.L. 2007. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC: Jakarta
Wong, Donna L. 2007. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. EGC:
Jakarta
Ropyanto, Chandra. 2011. Analisis Faktor-faktor yang berhubungan
dengan Status Fungsional Pasien Paska Open Redukction Internal Fixation (ORIF)
Fraktur Extermitas Bawah di RS Ortopedi Prof. Soeharso Surakarta. Jurnal Ilmiah
kesehatan http:/www.lontar.ui.ac.id/ diakses pada tanggal 13 April 2014
Helmi, zairin . 2012. Buku Saku
Kedaruratan Di Bidang Bedah Ortopedi:
Salemba medika. Jakarta
Syaifudin. 2007. Kamus Saku Kedokteran Dorland. EGC:
Jakarta
Wijaya,Andra dan Putri,Yessie. 2013. KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah (Keperawatan
Dewasa). Nuha medika: Jakarta
Sylvia dan
lorraine. 2006. Patofisiologi 1 Edisi 6. EGC: Jakarta
Bararah dan Jauhar. 2013. Asuhan
Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi Perawat Profesional Jilid 2. Prestasi
pustaka publisher: Jakarta
Taylor, cynthia. 2010. Diagnos Keperawatan Dengan Rencana Asuhan.
EGC:
Jakarta
Maryam, siti; pudjiati; gustina;raenah,
een. 2013. Buku Ajar Kebuttuhan
DasarManusia Dan Berfikir Kritis Dalam Keperawatan. TIM: Jakarta
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: "ca-pub-1159606374369495",
enable_page_level_ads: true
});
</script>
