Rabu, 14 Februari 2018

PROPOSAL PENERAPAN KOMBINASI TERAPI HIPNOSIS 5 JARI DAN MUSIK PADA KECEMASAN PASIEN PRE OP FRAKTUR FEMUR

Tidak ada komentar:
PENERAPAN KOMBINASI TERAPI HIPNOSIS 5 JARI DAN MUSIK PADA KECEMASAN PASIEN PRE OP FRAKTUR FEMUR DI
RSUD DR. SOEDIRMAN KEBUMEN BANGSAL BEDAH

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan
Diploma III Keperawatan


 







NAMA              : CHARIS
NIM                   : A01502002






PROGRAM STUDI DIII KPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
TAHUN 2017 - 2018












Description: Description: Description: Description: LOGO STIMUGO.jpgBAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Dewasa ini banyak orang yang sudah memiliki banyak kendaraan hampir setiap rumah memiliki berbagai kendaraan (Angling, 2017). Dan yang menyebabkan jalanan dipenuhi oleh kendaraan yang beresiko kecelakaan. Dari kecelakaan itulah korban sering mengalami fraktur. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price dan Wilson, 2007). Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Wong, 2007).
Menurut Helmi (2012), fraktur ini berupa nyeri. Nyeri pada penderita fraktur bersifat tajam dan menusuk, nyeri tajam juga biasanya ditimbulkan oleh infeksi tulang akibat spasme otot atau penekanan pada syaraf sensoris. Penyebab utama dari fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Dan yang sering dialami korban khususnya yang mengalami fraktur pada bagian extermitas bawah.
Menurut WHO (2017) kecelakaan lalu lintas menewaskan hampir 1,3 juta jiwa di seluruh dunia atau 3000 kematian setiap hari dan menyebabkan cedera sekitar 6 juta orang setiap tahunnya, dimana pada tahun 2005 terdapat lebih dari tujuh juta orang meninggal karena kecelakaan dan sekitar dua juta mengalami kecacatan fisik. Menurut Depkes RI (2007) dalam Ropyanto (2011) kecelakaan di Indonesia berdasarkan laporan kepolisian menunjukkan peningkatan 6,72 % dari 57.726 kejadian di tahun 2009 menjadi 61.606 insiden di tahun 2010 atau berkisar 168 insiden setiap hari dan 10.349 meninggal dunia atau 43,15 %. Sebagian besar dari korban kecelakaan mengalami fraktur.
Melihat fenomena tersebut korban yang mengalami patah tulang atau fraktur biasanya ditangani oleh masyarakat sekitar untuk tindakan pertolongan pertama dengan cara membidainya, kemudian dibawa menuju kerumah sakit untuk tindakan lebih lanjut atau penangan medis. Dalam penangan medis biasanya korban dengan fraktur terbuka atau tertutup dilakukan dengan tindakan operasi. Salah satu tindakan operasi ini dinamakan open reduction interna fixation (0rif).
ORIF adalah fiksasi interna dengan pembedahan terbuka untuk mengistirahatkan fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukkan paku, screw, pen kedalam tempat fraktur untuk menguatkan bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Fiksasi interna sering digunakan untuk merawat fraktur pada tulang panggul yang sering terjadi pada orang tua (Reeves, 2001).
Metode yang digunakan dalam melakukan fiksasi interna harus sesuai keadaan sekrup kompresi antar fragmen, plat dan sekrup : paling sesuai untuk lengan bawah, paku intra medulla: untuk tulang panjang yang lebih besar, paku pengikat sambungan dan sekrup: ideal untuk femur dan tibia, sekrup kompresi dinamis dan plat: ideal untuk ujung proximal dan distal femur.
Sebelum dilakukan tindakan operasi sebagian besar pasien yang belum pernah operasi dalam kondisi sadar mengalami kondisi khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang, dan gerakan tidak tenang. Kondisi tersebut biasanya disebut istilah cemas atau ansietas. Cemas atau ansietas adalah suatu perasaan resah tidak menentu atau rasa takut disertai respon otonomik yang pada banyak kasus, sumbernya tidak spesifik atau tidak diketahui suatu perasaan takut karena antisipasi terhadap bahaya suatu sinyal gangguan yang menandakan akan terjadi bahaya dan memungkinkan individu untuk menghadapi ancaman dari bahaya tersebut (Taylor, 2010)
Cemas adalah perasaan khawatir yang tidak jelas terhadap sumber yang seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu (Maryam, 2013). Belakangan ini orang akan mengalami cemas karena ketidaktahuan sesuatu yang terjadi missal cemas karena frakur yang mungkin bisa menyebabkan lumpuh selamanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut perlu adanya terapi keperawatan, terapi keperawatan dikembangkan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri, salah satunya adalah terapi kombinasi hipnosis 5 jari dan terapi musik. Hipnosis 5 jari adalah seni komunikasi verbal yang bertujuan membawa gelombang pikiran pasien menuju trance (gelombong alpha/theta). Dikenal juga dengan menghipnotis diri yang bertujuan untuk pemograman diri, menghilangkan kecemasan dengan melibatkan saraf parasimpatis dan akan menurunkan peningkatan kerja jantung, pernafasan, tekanan darah, kelenjar keringat dll (Barbara, 2010).
Sedangkan kombinasi dengan terapi musik adalah penggunaan musik atau elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi kualifikasi, terhadap pasien atau kelompok dalam proses membangun komunikasi meningkatkan relasi interpersonal, belajar meningkatkan mobilitas, mengungkapkan  ekspresi, menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya. Terapi musik juga mempunyai tujuan untuk membantu mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi serta mengurangi tingkat kecemasan pada pasien (Djohan, 2007).
Berdasarkan penelitian yang pernah diterapkan menunjukan bahwa kombinasi terapi hipnosis 5 jari dengan terapi musik menurunkan tingkat kecemasan. Salah satu penelitian yang dilakukan Evanglista, Widodo, & Widianti (2016) yakni pengaruh hipnosis 5 jari terhadap tingkat kecemasan pasien sirkumsisi ditempat praktik mandiri Mulyorejo Sukun Malang. Metode penelitian yang digunakan dengan one


B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah gambaran Penerapan Kombinasi Terapi Hipnosis 5 Jari dan Musik Klasik Pada klien Pre Op Fraktur Femur untuk mengurangi rasa cemasnya ?

C. TUJUAN
1.        Tujuan Umum
Tujuan umum karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui Penerapan terapi kombinasi hypnosis 5 jari dan musik klasik pada klien post op fraktur femur yang mengalami kecemasan.
2.        Tujuan khusus
a.         Menggambarkan proses penerapan asuhan keperawatan dengan menggunakan musik klasik pada klien fraktur femur.
b.        Memberikan gambaran tentang intervensi asuhan keperawatan penerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien raktur femur.
c.         Memberikan gambaran tentang implementasi asuhan keperawatanpenerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien raktur femur.
d.        Memberikan gambaran tentang evaluasi asuhan keperawatan penerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien raktur femur.

D. MANFAAT STUDI KASUS
Manfaat Keilmuan
a.    Bagi Masyarakat
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat tentang asuhan keperawatanpenerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien raktur femur.
b.    Bagi Pengemban Ilmu dan Teknologi Keperawatan
Diharapkan Karya Tulis ini dapat digunakan sebagai masukan untuk menerapkan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien raktur femur
c.    Bagi Penulis
Sebagian sarana dan alat dalam  memperoleh pengetahuan dan pengalaman khususnya di bidang kejiwaan pada asuhan keperawatan penerapan musik klasik pada gangguan extermitas bawah pada klien raktur femur

 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Tinjauan Pustaka
2.1.1 Fraktur femur
2.1.1.1 Pengertian
    Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price dan Wilson, 2006). Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Wong, 2004). Tulang Femur merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar didalam tulang.kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris (Syaifudin, 2007).
Menurut Helmi (2012), manifestasi klinik dari fraktur ini berupa nyeri. Nyeri pada penderita fraktur bersifat tajam dan menusuk, nyeri tajam juga biasanya ditimbulkan oleh infeksi tulang akibat spasme otot atau penekanan pada syaraf sensoris. Penyebab utama dari fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Dan yang sering dialami korban khususnya yang mengalami fraktur pada bagian extermitas bawah.

2.1.1.2 Etiologi
Menurut Wijaya dan Putri (2013), Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstremitas, organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang. Peyebab fraktur adalah :
a.         Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang miring.
b.      Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
c.      Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
2.1.1.3 Patofisiologi
Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau gangguan gaya dalam tubuh, seperti stress, gangguan fisik, gangguan metabolik,dan patologik. Ketika terjadi fraktur kemampuan otot pendukung tulang turun, baik terjadi pada fraktur yang terbuka ataupun fraktur tertutup. Kerusakan pembuluh darah akibat fraktur akan menyebabkan pendarahan, yang menyebabkan volume darah menurun, sehingga COP menurun dan mengakibatkan terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma pada kasus fraktur akan mengeksudasi plasma dan berpoliferasi menjadi edema lokal. Fraktur terbuka atau tertutup sering mengenai serabut saraf, dimana hal ini dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu. Fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi akibat terkontaminasi dengan udara luar dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit (Sylvia, 2006). Dan fraktur biasanya menyebabkan klien mengalami kecemasan seperti cemasnya akan di buly sama temen-temennya, tidak bisa sembuh, akan mengalami lumpuh.
2.1.1.4 Manifestasi klinis
Menurut Bararah dan Jauhar (2013), ada beberapa manifestai klinis yaitu:
a.      Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
b.      Deformitas, setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa)
c.      Krepitasi, saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
d.     Bengkak, pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
e.      Peningkatan temperatur lokal
f.       Pergerakan abnormal
g.      Echymosis
h.      Kehilangan fungsi, ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot

2.1.1.5 Komplikasi
Menurut Bararah dan Jauhar (2013), komplikasi fraktur yaitu:
a.         Komplikasi umum
1)   Shock terjadi karena kehilangan banyak darah
2)   Kerusakan organ
3)   Kerusakan saraf
4)   Emboli lemak, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah.
b.        Komplikasi dini
1)   Cedera arteri
2)   Cedera kulit dan jaringan, sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan
3)   Cedera partement syndrom
c.         Komplikasi lanjut
1)   Stiffnes
2)   Degenerasi sendi
3)   Penyembuhan tulang terganggu
4)   Mal union
5)   Nonunion
6)   Delayed union
7)   Cross union

2.1.1.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Wijaya dan Putri (2013), pemeriksaan penunjang fraktur yaitu :
a.    Pemeriksaan rontgen
b.    Scan tulang, tonogram, scan CT/MRI
d.   Arteriogram
e.    Hitung darah lengka
f.     Kreatinin
g.    Profil koagulasi

2.1.1.7 Penatalaksanaan
Menurut Price (2006), prinsip penanganan fraktur ada 4 yaitu:
a.    Rekognisi adalah menyangkut diagnosis fraktur pada tempat kejadian dan kemudian di rumah sakit
b.    Reduksi adalah usaha dan tindakan memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya
c.    Retensi adalah aturan umum dalam pemasangan gips, yang dipasang untuk mempertahankan reduksi harus melewati sendi diatas fraktur dan dibawah fraktur
d.   Rehabilitasi adalah pengobatan dan penyembuhan fraktur.

2.1.1.8 Asuhan Keperawatan
Menurut Wijaya (2013), asuhan keperawatan merupakan penerapan pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah, merencanakan secara sistematis dan melaksanakannya secara mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
a.    Pengkajian
Menurut Wijaya dan Putri (2013), pengkajian fraktur antara lain:
1)   Identitas Pasien
Meliputi: nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, suku, bangsa, pendidikan,pekerjaan, tanggal masuk Rumah Sakit, diagnosa medis, no. Registrasi.
2)   Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dari lamanya serangan. Unit memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri pasien digunakan:
a)        Provoking inciden: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor prepitasi nyeri
b)        Quality of pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan pasien. Apakah seperti terbakar, berdenyut/menusuk.
c)        Region radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar dan dimana rasa sakit terjadi.
e)        Saverity (scale of pain): seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan pasien, bisa berdasarkan skala nyeri/ pasien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
f)         Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari/ siang hari.
3)   Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien fraktur/ patah tulang dapat disebabkan oleh trauma/ kecelakaan, degeneratif dan patologis yaang didahului dengan perdarahan, kerusakan jaringan sekirat yang mengakibatkan nyeri, bengkak, kebiruan, pucat/perubahan warna kulit dan kesemutan.
4)   Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien pernah mengalami penyakit ini (fraktur femur) atau pernah punya penyakit yang menular/menurun sebelumnya.
5)   Riwayat penyakit keluarga
Pada keluarga pasien ada atau tidak yang menderita osteoporosis, arthritis dan tuberkolosis atau penyakit lain yang sifatnya menurun dan menular.
6)   Pola fungsi kesehatan.
a)     Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada fraktur akan mengalami perubahan/ gangguan pada personal higiene, misalnya kebiasaan mandi, ganti pakaian, BAB dan BAK
b)     Pola nutrisi dan metabolisme
Pada fraktur tidak akan mengalami penurunan nafsu makan, meskipun menu berubah misalnya makan dirumah gizi tetap sama sedangkan di Rumah Sakit disesuaikan dengan penyakit dan diet pasien.
c)     Pola eliminasi
Kebiasaan miksi/ defekasi sehari-hari, kesulitan waktu defekasi dikarenakan imobilisasi, feses warna kuning dan konsistensi defekasi, pada miksi pasien tidak mengalami gangguan.
d)    Pola istirahat dan tidur
Kebiasaan pola tidur dan istirahat mengalami gangguan yang disebabkan oleh nyeri, misalnya nyeri akibat fraktur.
e)     Pola aktivitas dan latihan
Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yaang terkena (mungkin akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder pembengkakan jaringan dan nyeri. Sehingga aktivitas dan latihan mengaalami perubahan/ gangguan akibat dari fraktur femur sehingga kebutuhan pasien perlu dibantu oleh perawat/ keluarga.
f)      Pola persepsi dan konsep diri
Pada fraktur akan mengalami gangguan diri karena terjadi perubahan pada dirinya, pasien takut dan cemas cacat seumur hidup/ tidak dapat bekerja lagi.
g)     Pola sensori kognitif
Nyeri yang disebabkan oleh kerusakan jaringan, sedang pada pola kognitif atau cara berfikir pasien tidak mengalami ganguan.
h)     Pola hubungan peran
Terjadinya perubahan peran yang dapat mengganggu hubungan interpersonal yaitu pasien merasa tidak berguna lagi dan menarik diri.
i)       Pola penanggulangan stress
Perlu ditanyakan apakah membuat pasien menjadi stress dan biasanya masalah dipendam sendiri/ dirundingkan dengan keluarga.
j)         Pola reproduksi seksual
Bila pasien sudah berkeluarga dan mempunyai anak, maka akan mengalami pola seksual dan reproduksi, jika pasien belum berkeluarga pasien tidak akan mengalami gangguan.
k)     Pola tata nilai dan kepercayaan
Adanya kecemasan dan stress sebagai pertahanan dan pasien meminta perlindungan/ mendekatkan diri dengan Tuhan.
b.    Diagnosa Keperawatan
Menurut Wijaya dan Putri (2013), diagnosa keperawatan pada pasien fraktur antara lain:
1)     Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2)     Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
3)     Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
c.    Intervensi Keperawatan
Menurut Wijaya dan Putri (2013), intervensi keperawatan:
1) Diagnosa keperawatan 1: nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan nyeri berkurang atau dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
(1)  Nyeri berkurang skala nyeri 1-3
(2)  Klien tampak rileks
(3)  TTV dalam batas normal:
(a) Tekanan Darah                   : 110-120/ 80-90 mmHg
(b) Nadi                                   : 60-100 X/ menit
(c) Respiratory Rate                : 18-24 X/ menit
(d) Suhu                                  : 36,5-37,5 ˚C
Rencana Tindakan :
(1)  Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri.
Rasional: Dengan memberikkan penjelasan diharapkan pasien tidak merasa cemas dan dapat melakukan sesuatu yang dapat mengurangi nyeri.
(2)  Ajarkan pada pasien tentang teknik mengurangi rasa nyeri Rasional: Diperolehnya pengetahuan tentang nyeri akan memudahkan kerjasama dengan asuhan keperawatan untuk memecahkan masalah.
(3)  Beri posisi senyaman mungkin
Rasional: Memperlancar sirkulasi paada daerah luka/ nyeri
(4)  Observasi TTV
Rasional: Observasi TTV dapat diketahui keadaan umum pasien
(5)  Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik Rasional: Obat analgesik diharapkan dapat mengurangi nyeri
2)     Diagnosa keperawatan 2: Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 X 24 jam diharapkan pasien dapat melakukan aktivitas sebatas kemampuan. Kriteria Hasil:
(1)  Pasien mengerti pentingnya melakukan aktivitas
(2)  Pasien bisa duduk, makan dan minum tanpa dibantu
(3)  Pasien dapat mempertahankan fungsi tubuh secara maksimal.
Rencana tindakan :
(1)  Lakukan pendekatan kepada pasien untuk melakukan aktivitas sebatas kemampuan
Rasional: Dengan pendekatan yang baik diharapkan pasien akan lebih kooperatif dalam melakukan aktivitas.
(2)  Observasi sejauh mana pasien belum melakukan aktivitas Rasional: Dengan observasi diharapkan pasien sudah bisa melakukan aktivitas
(3)  Beri motivasi pada pasien untuk melakukan aktivitas
Rasional: Dengan adanya motivasi diharapkan pasien lebih bersemangat dalam melatih aktivitas.
3)     Diagnosa keperawatan 3: Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan cemas berkurang.
Kriteria Hasil:
(1)  Pasien tampak tenang (rileks)
(2)  Pasien istirahat dengan nyaman
(3)  Pasien dapat mempertahankan fungsi tubuh secara maksimal Rencana Tindakan:
(1)  Jelaskan kepada pasien mengenai prosedur tindakan pengobatan Rasional: Pasien kooperatif mengenai prosedur tindakan pengobatan
(2)  Kaji tingkat kecemasan pasien
Rasional : Dengan diberikan informasi bisa menurunkan cemas
(3)  Observasi TTV
Rasional: Observasi TTV dapat diketahui keadaan umum pasien.

2.1.2 Kecemasan
2.1.2.1 Pengertian
Cemas adalah suatu perasaan resah tidak menentu atau rasa takut disertai respons otonomik yang pada banyak kasus, sumbernya tidak spesifik atau tidak diketahui; suatu perasaan takut karena antisipasi terhadap bahaya; suatu sinyal gangguan yang menandakan akan terjadi bahaya dan memungkinkan individu untuk menghadapi ancaman dari bahaya tersebut (Taylor, 2010). Cemas adalah perasaan khawatir yang tidak jelas terhadap sumber yang seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu (Maryam, 2013). Belakangan ini orang akan mengalami cemas karena ketidaktahuan sesuatu yang terjadi missal cemas karena frakur yang mungkin bisa menyebabkan lumpuh selamanya.

2.1.2.2 Ciri-ciri cemas
Menurut Hawari (2013), ciri-ciri cemas antara lain :
a.      Cemas, khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang
b.     Memandang masa depan dengan rasa was-was (khawatir)
c.      Kurang percaya diri, gugup apabila tampil dimuka umum (“demam panggung”)
d.     Sering merasa tidak bersalah, menyalahkan orang lain
e.      Tidak mudah mengalah, suka ”ngotot”
f.      Gerakan sering serba salah tidak tenang bila duduk, gelisah
g.     Seringkali mengeluh ini dan itu (keluhan-keluhan somatik), khawatir berlebihan terhadap penyakit
h.     Mudah tersinggung, suka membesar-besarkan masalah yang kecil (dramatisasi)
i.       Dalam mengambil keputusan sering diliputi rasa bimbang dan ragu
j.       Bila mengemukakan sesuatu atau bertanya seringkali diulang-ulang
k.     Kalau sedang emosi seringkali bertindak histeri

2.1.2.3 Gejala klinis cemas
Menurut Hawari (2013) gejala klinis cemas antara lain :
a.      Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri mudah tersinggung
b.     Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut
c.      Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
d.     Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
e.      Gangguan konsentrasi dan daya ingat
f.      Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala.

2.1.2.4 Proses Terjadinya Kecemasan
a.       Faktor Predisposisi Kecemasan
Stuart & Laraia (2007) mengemukakan bahwa penyebab kecemesan dapat dipahami melalui beberapa teori yaitu :
1)      Teori Psikoanalitik
Menurut Freud (2007) kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seorang dan dikendalikan oleh normal budaya seorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2)      Teori tingkah laku (Pribadi)
Teori ini berkaitan dengan pendapat bahwa kecemasan adalah hasil frustasi, dimana segala sesuatu yang menghalangi terhadap kemampuan seorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan dapat menimbulkan kecemasan. Faktor presipitasi yang aktualmungkin adalah sejumlah stressor internal dan eksternal, tetapi faktor-faktor tersebut bekerja menghambat usaha seorang untuk memperoleh kepuasan dan kenyamanan. Selain itu kecemasan juga sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan.
3)      Teori keluarga
Menunjukan bahwa gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam satu keluarga dan juga terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga.
4)      Teori biologis
Menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-gamma neroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan, sebagaimana halnya dengan endorphin. Selain itu, telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seorang untuk mengatasi stressor.
b.      Faktor presipitasi kecemasan
Menurut Stuart & Laraia (2007), faktor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Ada dua kategori faktor pencetus kecemasan, yaitu ancaman terhadap integritas fisik dan terhadap sistem diri
1)      Ancaman terhadap integritas fisik
Ancaman pada kategori ini meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
2)      Ancaman terhadap sistem tubuh
Ancaman pada kategori ini dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi social seorang.

2.1.3 Terapi kombinasi hipnosis 5 jari dan musik
2.1.3.1 Pengertian
Hipnosis 5 jari adalah seni komunikasi verbal yang bertujuan membawa gelombang pikiran klien menuju trance (gelombang alpha/theta). Dikenal juga dengan menghipnotis diri yang bertujuan untuk pemograman diri, menghilangkan kecemasan dengan melibatkan saraf parasimpatis dan akan menurunkan peningkatan kerja jantung, pernafasan, tekanan darah, kelenjar keringat dll (Barbara, 2010).
Sedangkan kombinasi dengan terapi musik adalah penggunaan musik atau elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi kualifikasi, terhadap klien atau kelompok dalam proses membangun komu nikasi, meningkatkan relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas, mengungkapkan ekspresi, menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya. Terapi musik juga mempunyai tujuan untuk membantu mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi serta mengurangi tingkat kecemasan pada pasien (Djohan, 2006).

2.1.3.2 Manfaat
Terapi hipnosis 5 jari ini bermanfaat dalam penanganan kecemasan pada pasien karena dengan imajinasi terbimbing maka akan membentuk bayangan yang akan diterima sebagai rangsangan oleh berbagai indra maka dengan membayangkan sesuatu yang indah perasaan akan merasa tenang. Ketegangan otot dan ketidaknyamanan akan dikeluarkan maka akan menyebabkan tubuh menjadi rileks dan nyaman (Smeltzer & Bare, 2007). Dan kombinasi Terapi musik klasik bermanfaat untuk membuat seseorang menjadi rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, menurunkan tingkat kecemasan pasien pra operasi dan melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stress. Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan adrenal corticotropin hormon (ACTH) yang merupakan hormon stress (Bernatzky et al, 2011).
2.1.3.3 Alasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi yang memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan, disertai respon perilaku, emosional, dan fisiologis. Individu yang mengalami kecemasan dapat memperlihatkan perilaku yang tidak lazim seperti panik tanpa alasan, takut yang tidak beralasan terhadap objek atau kondisi kehidupan, melakukan tindakan berulang-ulang tanpa dapat dikendalikan, mengalami kembali peristiwa yang traumatik, atau rasa khawatir yang tidak dapat dijelaskan atau berlebihan sehingga bisa mengganggu kinerja individu, kehidupan keluarga dan lingkungan sosial (Videbeck, 2008).
Menurut Peni (2008, dalam Anita 2014) juga menjelaskan bahwa penggunaan terapi non farmakologi yang lebih mudah dan murah adalah terapi hipnosis 5 jari. Bila terapi ini dapat digunakan maka dapat memulihkan otot otot sendi yang kaku serta dapat menurunkan kecemasan ini dilakukan secara kesadaran dan disertai dengan kedisiplinan.
Terapi musik memiliki keunggulan lainya dengan berjalan selama 25 menit menggunakan pengeras suara sesuai dengan prosedur (2008,dalam Dwi 2015) bahwa Terapi sangat dianjurkan pada pasien yang mengalami cemas, dengan menggunakan terapi non farmakologi ini, maka dapat menjaga dan mengontrol tingkat kecemasan dijelaskan (Zainatun,2016)
 BAB III
METODE STUDI KASUS
A.    Desain Studi Kasus
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan desain penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara obyektif.
Kriteria pada penulisan studi kasus ini adalah 1 pasien yang terdiagnosa fraktur femur. Pada studi kasus ini, akan menerapkan hasil penelitian pada jurnal tentang kombinasi hipnosis 5 jari dengan terapi musik pada pada kecemasan, apakah ada pengurangan kecemasan pada pasien sebelum dan setelah dilakukan penerapan kombinasi terapi hipnosis 5 jari dengan musik.

B.     Subyek Studi Kasus
Subyek studi kasus ini adalah menunjuk 1 pasien yang terdiagnosa fraktur bagian extermitas bawah dengan masalah gangguan kecemasan.

C.    Fokus Studi Kasus
a.       Kriteria inklusi terdiri dari :
1)      Pasien yang dirawat di Bangsal Bedah RSUD Banyumas.
2)      Pasien yang mengalami kecemasan pada Pasien fraktur femur yang berusia 40 tahun.
3)      Pasien yang dapat berkomunikasi dengan baik.
4)      Pasien yang memiliki pendengran baik.
5)      Pasien yang bersedia menjadi subyek studi kasus
b.      Kriteria eksklusi terdiri dari :
1)      Pasien dan keluarga yang menolak melanjutkan perlakuan sebelum selesai.
2)      Pasien dan keluarga yang sudah menjadi responden dalam stud pendahuluan tidak dimasukkan lagi.
D.    Definisi Operasional
Kombinasi terapi hipnosis 5 jari dengan musik klasik ini dilakukan selama 25 menit dan diberikan terapi 1 kali sebelum pre op, terapi ini merupakan salah satu tindakan penerapan keperawatan yang memberikan informasi atau menambah pengetahuan yang dialami oleh Pasien mengenai kecemasan dan keluarga. Dilakukan dengan memberikan 14 simptom kuisioner HARS kepada Pasien untuk mengetahui skala kecemasannya.

E.     Instrumen Studi Kasus
Instrumen studi kasus ini di adopsi oleh Pratiwi ( 2014 ) Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
 Alat ukur ini terdiri dari kuesioner HARS yang dinilai dari angka (score) 0-4 dengan 0 menunjukkan tidak ada gejala (keluhan), 1 menunjukkan gejala ringan, 2 menunjukkan gejala sedang, 3menunjukkan gejala berat, dan 4 menunjukkan gejala berat sekali. Masing-masing nilai angka (score) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan pasien, yaitu dengan nilai kurang dari 14 menunjukkan tidak ada kecemasan, nilai 14 sampai 20 menunjukkan kecemasan ringan, nilai 21 sampai 27 menunjukkan kecemasan sedang, nilai 28 sampai 41 menunjukkan kecemasan berat, dan 42 sampai 56 menunjukkan kecemasan berat sekali.

F.     Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data studi kasus didapatakan dengan menggunakan teknik pengumpulan data deskriptif dengan pendekatan studi literature, dimana penulisan ini menjelaskan dan memaparkan dari jurnal yang didapatakan untuk mempermudah penulisan asuhan keperawatan penerapan sebelum kelapangan. Setelah mendapatkan 1 pasien dengan gangguan kecemasan : fraktur femur situasional pada pasien kecelakaan yang nantinya akan dilakukan asuhan keperawatan penerapan terapi hypnosis 5 jari kombinasi dengan terapi musik sebagai penulisan studi ksus, penulis mengumpulkan data dari data subyektif dan data obtektif. Data subyektif didapatkan dari ungkapan pasien langsung atau keluhan yang dirasakan pasien, apabila pasien tidak dapat bicara maka data pasien didapatkan dari keluarga pasien. Sedangkan data obyektif didapatakan dari data yang dapat diukur, didapatkan data dari observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium,dll. Urutan langkah terapi ini akan dimulai dengan pre orientasi, orientasi, fase kerja, terminasi.

G.    Lokasi dan waktu studi kasus
a.       Lokasi
Penulisan studi kasus ini akan dilaksanakan di RSUD Banyumas bangsal bedah. Pemilihan lokasi tersebut berdasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :
1)      Lokasi tersebut mudah dijangkau oleh penulis dengan harapan agar penulisan studi kasus dapat berjalan dengan baik dan lancar.
2)      Lokasi RS tersebut merupakan lokasi dimana rumah sakit besar di kabupaten Banyumas, RS tersebut juga sering menjadi rujukan dari RS lain maupun dari klinik atau puskesmas di sekitar Banyumas dan memiliki frekuensi jumlah pasien yang banyak dengan masalah keperawatan yang bermacam-macam.
b.      Waktu
Pengambilan studi kasus ini akan dilaksanakan pada Agustus 2017 dengan minimal waktu pengelolaan pasien 5 hari.

H.    Analisis data dan penyajian data
Analisa data yang adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis. Analisa data yang digunakan dalam studi kasus ini dengan distribusi frekuensi yang diolah dari proses pengkajian pasien fraktur femur dan pengumpulan data yang diperoleh, menyusun instrument, diagnose keperawatan, merencanakan keperawatan, implementasi dan evaluasi. Kemudian penyajian dipaparkan dalam bentuk table.

I.       Etika studi kasus
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis harus menggunakan etika sebagai berikut (Loiselle et al 2007, Palestin 2009) :
1.    Menghormati harkat dan martabat manusia ( respect for human dignity )
Salah satu bentuk tindakan yang terkait dengan prinsip menghormati harkat dan martabat manusia adalah dengan penulis mempersiapkan formulir persetujuan Pasien (informed consent) dan apabila Pasien menolak penulis tidak akan memaksa
2.    Menghormati privasi dan kerahasiaan Pasien (respect for privacy and confidentially)
3.    Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness)
Prinsip ini menjunjung tinggi keadilan pasien dengan menghargai hak-hak memberikan perawatan secara adil dan hak menjaga privasi pasien. 
4.    Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms and benefit)
Prinsip ini mengharuskan penulis untuk memperkecil resiko dan memaksimalkan manfaat. Penulis harus memberikan manfaat kepada pasien dan keluarga pasien.

 DAFTAR PUSTAKA
Price A.S dan Wilson M.L. 2007. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC: Jakarta
Wong, Donna L. 2007. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. EGC: Jakarta
Ropyanto, Chandra. 2011. Analisis Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Fungsional Pasien Paska Open Redukction Internal Fixation (ORIF) Fraktur Extermitas Bawah di RS Ortopedi Prof. Soeharso Surakarta. Jurnal Ilmiah kesehatan http:/www.lontar.ui.ac.id/ diakses pada tanggal 13 April 2014
Helmi, zairin . 2012. Buku Saku Kedaruratan Di Bidang Bedah Ortopedi:
Salemba medika. Jakarta

Syaifudin. 2007. Kamus Saku Kedokteran Dorland. EGC: Jakarta
Wijaya,Andra dan Putri,Yessie. 2013. KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah (Keperawatan Dewasa). Nuha medika: Jakarta

Sylvia dan lorraine. 2006. Patofisiologi 1 Edisi 6. EGC: Jakarta

Bararah dan Jauhar. 2013. Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi Perawat Profesional Jilid 2. Prestasi pustaka publisher: Jakarta

Taylor, cynthia. 2010. Diagnos Keperawatan Dengan Rencana Asuhan. EGC:
Jakarta

Maryam, siti; pudjiati; gustina;raenah, een. 2013. Buku Ajar Kebuttuhan DasarManusia Dan Berfikir Kritis Dalam Keperawatan. TIM: Jakarta


<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
          google_ad_client: "ca-pub-1159606374369495",
          enable_page_level_ads: true
     });
</script>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top