Jumat, 05 Maret 2021

JANGAN MARAH JIKA KESALAHANMU DILURUSKAN

Tidak ada komentar:

 


Ⓜ️edia Sunnah Nabi


⚠️ JANGAN MARAH JIKA KESALAHANMU DILURUSKAN


๐ŸŸข Ibnul Wazir rahimahullah berkata,


Orang ikhlas yang mengharapkan wajah Allah tidak takut dikritik kesalahannya dalam tutur katanya dan tidak takut pula ditunjukkan kebatilan ucapannya. Bahkan dia mencintai Al-Haq darimana pun datangnya dan menerima petunjuk dari orang yang memberinya petunjuk.


_______


๐Ÿ“š Al-Awaashim wal Qawaashim, I/244



๐Ÿ“—๐Ÿ“–..................✍๐Ÿป

⚠️ JANGAN REMEHKAN AMALAN ORANG LAIN

Tidak ada komentar:

 Ⓜ️edia Sunnah Nabi

⚠️ JANGAN REMEHKAN AMALAN ORANG LAIN


ุฅِู†َّ ุนَุจْุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ‌ุงู„ุนُู…َุฑِูŠَّ ุงู„ุนَุงุจِุฏَ ูƒَุชَุจَ ุฅِู„َู‰ ‌ู…َุงู„ِูƒٍ ูŠَุญُุถُّู‡ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ุงู†ْูِุฑَุงุฏِ ูˆَุงู„ุนَู…َู„ِ، ูَูƒَุชَุจَ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ‌ู…َุงู„ِูƒٌ: ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ู‚َุณَู…َ ุงู„ุฃَุนْู…َุงู„َ ูƒَู…َุง ู‚َุณَู…َ ุงู„ุฃَุฑْุฒَุงู‚َ، ูَุฑُุจَّ ุฑَุฌُู„ٍ ูُุชِุญَ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ، ูˆَู„َู…ْ ูŠُูุชَุญْ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุตَّูˆْู…ِ، ูˆَุขุฎَุฑَ ูُุชِุญَ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉِ، ูˆَู„َู…ْ ูŠُูุชَุญْ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุตَّูˆْู…ِ، ูˆَุขุฎَุฑَ ูُุชِุญَ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุฌِู‡َุงุฏِ.


ูَู†َุดْุฑُ ุงู„ุนِู„ْู…ِ ู…ِู†ْ ุฃَูْุถَู„ِ ุฃَุนْู…َุงู„ِ ุงู„ุจِุฑِّ، ูˆَู‚َุฏْ ุฑَุถِูŠْุชُ ุจِู…َุง ูُุชِุญَ ู„ِูŠ ูِูŠْู‡ِ، ูˆَู…َุง ุฃَุธُู†ُّ ู…َุง ุฃَู†َุง ูِูŠْู‡ِ ุจِุฏُูˆْู†ِ ู…َุง ุฃَู†ْุชَ ูِูŠْู‡ِ، ูˆَุฃَุฑْุฌُูˆ ุฃَู†ْ ูŠَูƒُูˆْู†َ ูƒِู„َุงู†َุง ุนَู„َู‰ ุฎَูŠْุฑٍ ูˆَุจِุฑٍّ.


๐ŸŸข Abdullah Al-Umari, seorang ahli ibadah, pernah menyurati Imam Malik (yang sibuk mengajar hadits) agar banyak menyendiri dan beramal shalih saja. Maka Imam Malik pun membalasnya:


“Sesungguhnya Allah telah membagi amalan sebagaimana pembagian rizki. Ada orang yang dimudahkan untuk memperbanyak shalat, namun tidak dimudahkan untuk mengerjakan puasa. Ada juga orang yang dimudahkan untuk memperbanyak sedekah, namun tidak dimudahkan untuk memperbanyak puasa. Ada juga orang-orang yang dimudahkan untuk berjihad (namun tidak dimudahkan dalam amal lainnya).


Menyebarkan ilmu merupakan salah satu amal kebaikan yang paling utama. Aku ridha dengan apa yang Allah mudahkan untuk ku. Aku juga memandang amalanku ini tidaklah lebih rendah dari amalanmu dan aku berharap semoga kita berdua selalu dalam kebaikan dan ketaatan.” 


_______


๐Ÿ“š Siyar A’lam An-Nubala 8/114


๐ŸŒ Web | shahihfiqih.com/mutiara-salaf/jangan-remehkan-amalan-orang-lain/



๐Ÿ“—๐Ÿ“–...................✍๐Ÿป



⚠️ SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN

Tidak ada komentar:

 Ⓜ️edia Sunnah Nabi


⚠️ SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN 


Oleh: 


Syaikh Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al’Ali 


Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut. 


Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya“[1]. 


Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:


 ูˆَุฌَุขุกَุชْ ุณَูƒْุฑَุฉُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ุฐَู„ِูƒَ ู…َุงูƒُู†ุชَ ู…ِู†ْู‡ُ ุชَุญِูŠุฏُ 


Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya“. [Qaaf/50: 19]


Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian[2]. 


Juga ayat:


 ูƒَู„ุข ุฅِุฐَุง ุจَู„َุบَุชِ ุงู„ุชَّุฑَุงู‚ِูŠَ {26} ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…َู†ْ ุฑَุงู‚ٍ {27} ูˆَุธَู†َّ ุฃَู†َّู‡ُ ุงู„ْูِุฑَุงู‚ُ {28} ูˆَุงู„ْุชَูَّุชِ ุงู„ุณَّุงู‚ُ ุจِุงู„ุณَّุงู‚ِ {29} ุฅِู„َู‰ ุฑَุจِّูƒَ ูŠَูˆْู…َุฆِุฐٍ ุงู„ْู…َุณَุงู‚ُ 


Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau“. [Al Qiyamah/75: 26-30] 


Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”[3]. 


Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut: Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)


 ุฅِู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูƒَุงู†َ ุจَูŠْู†َ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุฑَูƒْูˆَุฉٌ ุฃَูˆْ ุนُู„ْุจَุฉٌ ูِูŠู‡َุง ู…َุงุกٌ ูَุฌَุนَู„َ ูŠُุฏْุฎِู„ُ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูِูŠ ุงู„ْู…َุงุกِ ูَูŠَู…ْุณَุญُ ุจِู‡ِู…َุง ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุฅِู†َّ ู„ِู„ْู…َูˆْุชِ ุณَูƒَุฑَุงุชٍ ุซُู…َّ ู†َุตَุจَ ูŠَุฏَู‡ُ ูَุฌَุนَู„َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ูِูŠ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูƒ ุงู„ุฑู‚ุงู‚ ุจุงุจ ุณูƒุฑุงุช ุงู„ู…ูˆุช ูˆ ููŠ ุงู„ู…ุบุงุฒูŠ ุจุงุจ ู…ุฑุถ ุงู„ู†ุจูŠ ูˆูˆูุงุชู‡. ุงู„ุฑَّูِูŠู‚ِ ุงู„ْุฃَุนْู„َู‰ ุญَุชَّู‰ ู‚ُุจِุถَ ูˆَู…َุงู„َุชْ 


Bahwa di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas“[4] 


Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:


 ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ ู‚َุงู„َ ู„َู…َّุง ุซَู‚ُู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฌَุนَู„َ ูŠَุชَุบَุดَّุงู‡ُ ูَู‚َุงู„َุชْ ูَุงุทِู…َุฉُ ุนَู„َูŠْู‡َุง ุงู„ุณَّู„َุงู… ูˆَุง ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ููŠ ุงู„ู…ุบุงุฒูŠ ุจุงุจ ู…ุฑุถ ุงู„ู†ุจูŠ ูˆูˆูุงุชู‡.ุงู„ูŠَูˆْู…ِ َุฑْุจَ ุฃَุจَุงู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡َุง ู„َูŠْุณَ ุนَู„َู‰ ุฃَุจِูŠูƒِ ูƒَุฑْุจٌ ุจَุนْุฏَ 


Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…”[5] 


Dalam riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan:


 ุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ู‚َุงู„َุชْ ู…َุง ุฃَุบْุจِุทُ ุฃَุญَุฏًุง ุจِู‡َูˆْู†ِ ู…َูˆْุชٍ ุจَุนْุฏَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฑَุฃَูŠْุชُ ู…ِู†ْ ุดِุฏَّุฉِ ู…َูˆْุชِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูƒ ุงู„ุฌู†ุงุฆุฒ ุจุงุจ ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุชุดุฏูŠุฏ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ูˆุช ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ


Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah“[6]. 


Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: ” ูƒُู„ُّ ู†َูْุณٍ ุฐَุงูۤ‰ِูٕ‚َุฉُ ุงู„ْู…َูˆْุชِۗ  = Setiap jiwa akan merasakan mati“. (Ali ‘Imran/3: 185). Dan sabda Nabi: ” ุฅِู†َّ ู„ِู„ْู…َูˆْุชِ ุณَูƒَุฑَุงุชٍ   = Sesungguhnya kematian ada kepedihannya“. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda.[7] 


๐Ÿ”ด KABAR GEMBIRA UNTUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN.


Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan. Dalilnya, hadits Al Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin:


 ุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ูِูŠ ุงู†ْู‚ِุทَุงุนٍ ู…ِู†ْ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุฅِู‚ْุจَุงู„ٍ ู…ِู†ْ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ู†َุฒَู„َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู…َู„َุงุฆِูƒَุฉٌ ู…ِู†ْ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุจِูŠุถُ ุงู„ْูˆُุฌُูˆู‡ِ ูƒَุฃَู†َّ ูˆُุฌُูˆู‡َู‡ُู…ْ ุงู„ุดَّู…ْุณُ ู…َุนَู‡ُู…ْ ูƒَูَู†ٌ ู…ِู†ْ ุฃَูƒْูَุงู†ِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูˆَุญَู†ُูˆุทٌ ู…ِู†ْ ุญَู†ُูˆุทِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌْู„ِุณُูˆุง ู…ِู†ْู‡ُ ู…َุฏَّ ุงู„ْุจَุตَุฑِ ุซُู…َّ ูŠَุฌِูŠุกُ ู…َู„َูƒُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุณَّู„َุงู… ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌْู„ِุณَ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฃَูŠَّุชُู‡َุง ุงู„ู†َّูْุณُ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุฉُ ุงุฎْุฑُุฌِูŠ ุฅِู„َู‰ ู…َุบْูِุฑَุฉٍ ู…ِู†ْ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฑِุถْูˆَุงู†ٍ ู‚َุงู„َ ูَุชَุฎْุฑُุฌُ ุชَุณِูŠู„ُ ูƒَู…َุง ุชَุณِูŠู„ُ ุงู„ْู‚َุทْุฑَุฉُ ู…ِู†ْ ูِูŠ ุงู„ุณِّู‚َุงุกِ ูَูŠَุฃْุฎُุฐُู‡َุง ูَุฅِุฐَุง ุฃَุฎَุฐَู‡َุง ู„َู…ْ ูŠَุฏَุนُูˆู‡َุง ูِูŠ ูŠَุฏِู‡ِ ุทَุฑْูَุฉَ ุนَูŠْู†ٍ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฃْุฎُุฐُูˆู‡َุง ูَูŠَุฌْุนَู„ُูˆู‡َุง ูِูŠ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْูƒَูَู†ِ ูˆَูِูŠ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْุญَู†ُูˆุทِ ูˆَูŠَุฎْุฑُุฌُ ู…ِู†ْู‡َุง ูƒَุฃَุทْูŠَุจِ ู†َูْุญَุฉِ ู…ِุณْูƒٍ ูˆُุฌِุฏَุชْ ุนَู„َู‰ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ 


Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth (wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: 


Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya”. Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi..”[8]. 


Malaikat memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman:


 ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฑَุจُّู†َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุซُู…َّ ุงุณْุชَู‚َุงู…ُูˆุง ุชَุชَู†َุฒَّู„ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ْู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ุฃَู„ุขุชَุฎَุงูُูˆุง ูˆَู„ุงَุชَุญْุฒَู†ُูˆุง ูˆَุฃَุจْุดِุฑُูˆุง ุจِุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุงู„َّุชِูŠ ูƒُู†ุชُู…ْ ุชُูˆุนَุฏُูˆู†َ {30} ู†َุญْู†ُ ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุคُูƒُู…ْ ูِูŠ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَูِูŠ ุงْู„ุฃَุฎِุฑَุฉِ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠู‡َุง ู…َุงุชَุดْุชَู‡ِูŠ ุฃَู†ูُุณُูƒُู…ْ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠู‡َุง ู…َุงุชَุฏَّุนُูˆู†َ 


Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [Fushshilat/41: 30] 


Ibnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “Janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan“. 


Kemudian Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus sekali dan memang demikian kenyataannya”. 


Firman-Nya: “Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat berkata kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat, dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju kenikmatan syurga”[9]. 


Dalam ayat lain, Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:


 ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุชَุชَูˆَูَّุงู‡ُู…ُ ุงู„ْู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ุทَูŠِّุจِูŠู†َ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุณَู„ุงَู…ٌ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงุฏْุฎُู„ُูˆุง ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ุจِู…َุง ูƒُู†ุชُู…ْ ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ 


(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“. [An-Nahl/16: 32] . 


Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam…[10] 


๐Ÿ”ด MENGAPA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENDERITA SAAT SAKARATUL MAUT? 


Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah di atas. 


Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”[11] 


Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat : 


1. Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid. 


2. Mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”[12


๐Ÿ”ด KABAR BURUK DARI PARA MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG KAFIR. 


Sedangkan orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya:


 ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ุงู„ْูƒَุงูِุฑَ ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ูˆَุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ุงู„ุณُّูˆุกُ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ูِู‰ ุงู†ْู‚ِุทَุงุนٍ ู…ِู†َ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุฅِู‚ْุจَุงู„ٍ ู…ِู†َ ุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ ู†َุฒَู„َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉٌ ุณُูˆุฏُ ุงู„ْูˆُุฌُูˆู‡ِ ู…َุนَู‡ُู…ُ ุงู„ْู…ُุณُูˆุญُ ูَูŠَุฌْู„ِุณُูˆู†َ ู…ِู†ْู‡ُ ู…َุฏَّ ุงู„ْุจَุตَุฑِ ุซُู…َّ ูŠَุฌِู‰ุกُ ู…َู„َูƒُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌْู„ِุณَ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฃَูŠَّุชُู‡َุง ุงู„ู†َّูْุณُ ุงู„ْุฎَุจِูŠุซَุฉُ ุงุฎْุฑُุฌِู‰ ุฅِู„َู‰ ุณَุฎَุทٍ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุบَุถَุจٍ – ู‚َุงู„َ – ูَุชُูَุฑَّู‚ُ ูِู‰ ุฌَุณَุฏِู‡ِ ูَูŠَู†ْุชَุฒِุนُู‡َุง ูƒَู…َุง ูŠُู†ْุชَุฒَุนُ ุงู„ุณَّูُّูˆุฏُ ู…ِู†َ ุงู„ุตُّูˆูِ ุงู„ْู…َุจْู„ُูˆู„ِ 


Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek yang) banyak mata besinya dari bulu wol yang basah.[13] 


Secara ekspilisit, Al Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman:


 ” ูˆَู„َูˆْ ุชَุฑَู‰ٰ ุฅِุฐِ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ُูˆู†َ ูِูŠ ุบَู…َุฑَุงุชِ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ุจَุงุณِุทُูˆ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ุฃَุฎْุฑِุฌُูˆุง ุฃَู†ْูُุณَูƒُู…ُ ۖ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุชُุฌْุฒَูˆْู†َ ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ْู‡ُูˆู†ِ ุจِู…َุง ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุบَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَู‚ِّ ูˆَูƒُู†ْุชُู…ْ ุนَู†ْ ุขูŠَุงุชِู‡ِ ุชَุณْุชَูƒْุจِุฑُูˆู†َ 


Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya“. [Al An’am/6: 93] 


Maksudnya, para malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan: “Keluarkan nyawamu”. Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai, neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman (Allah). Maka nyawanya bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar. 


Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”.. artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (lantaran) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rasul-Nya. 


Saat detik-detik kematian datang, orang kafir mintai dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal sholeh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah berfirman:


 ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฌَุขุกَ ุฃَุญَุฏَู‡ُู…ُ ุงู„ْู…َูˆْุชَ ู‚َุงู„َ ุฑَุจِّ ุงุฑْุฌِุนُูˆู†ِ {99} ู„َุนَู„ِّูŠ ุฃَุนْู…َู„ُ ุตَุงู„ِุญًุง ูِูŠู…َุง ุชَุฑَูƒْุชُ ูƒَู„ุข ุฅِู†َّู‡َุง ูƒَู„ِู…َุฉٌ ู‡ُูˆَ ู‚َุขุฆِู„ُู‡َุง ูˆَู…ِู† ูˆَุฑَุขุฆِู‡ِู… ุจَุฑْุฒَุฎٌ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ูŠُุจْุนَุซُูˆู†َ 


(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan“. [Al Mukminun/23: 99-100] 


Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Allah. 


Wallahu a’lamu bishshawab. Washallallahu ‘ala Muhamaad wa ‘ala alihi ajmain. 


................................


(Diadaptasi oleh M. Ashim dari kitab Ahwalu Al Muhtazhir (Dirasah Naqdiyyah) karya Dr. Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad Al ‘Ali, dosen fakultas Ushuluddin di Riyadh. Majalah Jam’iah Islamiyah edisi 124 tahun XXXVI -1424 H) [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


 __ 


Footnote [1] Al Maut hlm. 69 [2] Lihat Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran (26/100-101) dan Fathul Qadir (5/75). [3] Taisir Al Karimi Ar Rahman Fi Tafsiri Kalami Al Mannan hlm. 833. [4] 


HR. Bukhari kitab Riqaq bab sakaratul maut (6510) dan kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446). [5]


 HR. Bukhari kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446). [6] 


HR. Tirmidzi kitab Janaiz bab penderitaan dalam kematian (979). Lihat Shahih Sunan Tirmidzi (1/502 no: 979). 


[7] At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/50-51). [8] 


HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753). 


[9] Tafsiru Al Quranil ‘Azhim (4/100-101). [10] Adhwaul Bayan (3/266). 


[11] Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari (11/363). [12] At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/48-50) dengan diringkas [13] HR. 


HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).


Ⓜ️edia Sunnah Nabi



๐Ÿ“•๐Ÿ“–..................✍๐Ÿป

Dilimpahkan Ilmu atau Dilimpahkan Harta ?

Tidak ada komentar:

 


••┈• ❀ ๐ŸŒฟ๐ŸŒป๐ŸŒฟ ❀ •┈•

ุจู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ุณู… ุงู„ู„ّู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู‡ ุงู„ุฑّุญู…ู† ุงู„ุฑّุญูŠู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู…

┏━━━━๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐ŸŒฟ

Dilimpahkan Ilmu atau Dilimpahkan Harta ?

┗━━━━๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐ŸŒฟ━━━━┛

 

๐ŸŒพ Semoga di hari yang semakin berkurangnya umur kita ini, kita  keluarga tetap dalam kebaikan serta dalam lindungan Allah Ta'ala. Semoga juga kita tetap istiqomah di atas jalan Hidayah Allah. Aamiin..


Bismillah


•┈•●●●◎❅❀❦❖❖❦❀❅◎●●●•┈



ุฅู†َّ ุงู„ู€ุญَู…ْุฏَ ู„ِู„ّู‡ِ ู†َู€ุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠْู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ، ูˆَู†َุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง ูˆَู…ِู†ْ ุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง، ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„ู‡ُ ูَู„َุง ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ، ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„َุง ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู† ู„ุงَّ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُู€ุญَู…َّุฏุงً ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُู‡ ؛


ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„ุงَّ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ.


ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงุชَّู‚ُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู†َูْุณٍ ูˆَุงุญِุฏَุฉٍ ูˆَุฎَู„َู‚َ ู…ِู†ْู‡َุง ุฒَูˆْุฌَู‡َุง ูˆَุจَุซَّ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ุฑِุฌَุงู„ุงً ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَู†ِุณَุงุกً ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุงู„َّุฐِูŠ ุชَุณَุงุกَู„ُูˆู†َ ุจِู‡ِ ูˆَุงู„ุฃََุฑْุญَุงู…َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฑَู‚ِูŠุจًุง.


ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู‚َูˆْู„ุงً ุณَุฏِูŠุฏًุง ูŠُุตْู„ِุญْ ู„َูƒُู…ْ ุฃَุนْู…َุงู„َูƒُู…ْ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุทِุนِ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฑَุณُูˆู„َู‡ُ ูَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ูَูˆْุฒًุง ุนَุธِูŠู…ًุง


ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ:


ูَุฅِู†َّ ุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ ูƒِุชَุงุจُ ุงู„ู„َّู‡ِ, ูˆَุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْู‡َุฏْูŠِ ู‡َุฏْูŠُ ู…ُุญَู…َّุฏٍ, ูˆَุดَุฑَّ ุงู„ุฃُู…ُูˆุฑِ ู…ُุญْุฏَุซَุงุชُู‡َุง, ูˆَูƒُู„َّ ู…ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ, ูˆَูƒُู„َّ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَู„ุงَู„َุฉٌ, ูˆَูƒُู„ُّ ุถَู„ุงَู„َุฉٍ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ


Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruh u Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man-yahdihillah falah mudhillalah Wa man yudh lil falaa haadiyalah. Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.


"Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang kita memuji-Nya. Kita memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya yang kita memohon dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada siapapun yang dapat menyesatkannya.  Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada siapapun yang dapat memberinya petunjuk.


Saya bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk disembah melainkan Dia ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah"                                                                      


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 70-71)


Amma ba’du:


Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.


(Awal dari khutbatul haajah, shahih di riwayatkan dari Rasulullah ๏ทบ oleh Nasa'i [III/104], Ibnu Majah [I/352/1110], Abu Dawud [III,460/1090] ).



ุฑَุจَّู†َุง ู„َุง ุชُุฒِุบْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุจَุนْุฏَ ุฅِุฐْ ู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง ูˆَู‡َุจْ ู„َู†َุง ู…ِู†ْ ู„َุฏُู†ْูƒَ ุฑَุญْู…َุฉً ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْูˆَู‡َّุงุจُ 

,

Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba'da Idz Hadaitanaa wa Hab Lana Mil-Ladunka Rahmatan Innaka Antal-Wahhaab


"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karenal sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 8)


ูŠَุง ู…ُู‚َู„ِّุจَ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆْุจِ، ุซَุจِّุชْ ู‚َู„ْุจِูŠ ุนَู„َู‰ ุฏِูŠْู†ِูƒَ


Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi 'Ala Diinik (wahai zat yang membolak balikkan hati teguhkan hati kami di atas agama-Mu." HR. Ahmad dan at Tirmidzi)_


ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู…ُุตَุฑِّูَ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ ุตَุฑِّูْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุนَู„َู‰ ุทَุงุนَุชِูƒَ


Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa 'Alaa Thaa'atik

Cara

"Ya Allah zat mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu." (HR. Muslim)



Rasulullah ๏ทบ berdoa setiap pagi ba'da Subuh, dengan doa:


 ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุนِู„ْู…ุงً ู†َุงูِุนุงً، ูˆَุฑِุฒْู‚ุงً ุทَูŠِّุจุงً، ูˆَุนَู…َู„ุงً ู…ُุชَู‚َุจَّู„ุงً


Allahumma Inniy  As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Muq ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima“. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni).


๐ŸŒ…๐ŸŒ…๐ŸŒ…๐ŸŒ…๐ŸŒ…


Semangat beraktivitas.

Semoga setiap langkah kita dimudahkan oleh Allah & selalu dalam naungan ridha-Nya


Aamiin



•┈• ❀ ๐Ÿค๐ŸŒบ๐Ÿค❀ •┈•



⚠️ HUKUM BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN ATAU DITUKAR ?

Tidak ada komentar:

 Ⓜ️edia Sunnah Nabi


⚠️ HUKUM BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN ATAU DITUKAR ?


‏ุงู„ุจุถุงุนุฉ ุงู„ู…ุจุงุนุฉ ู„ุง ุชุฑุฏ ูˆู„ุง ุชุณุชุจุฏู„ ุนุจุงุฑุฉ ุชุนู„ู†ู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ู…ุญู„ุงุช ุงู„ุชุฌุงุฑูŠุฉ، ูˆู‡ุฐุง ุนู„ู‰ ุนู…ูˆู…ู‡ ุดุฑุท ุจุงุทู„، ูุฅู† ุงู„ู…ุดุชุฑูŠ ุฅุฐุง ูˆุฌุฏ ุจุงู„ุณู„ุนุฉ ุนูŠุจุง ุฃู† ูŠุฑุฏู‡ุง ููŠุณุชุจุฏู„ู‡ุง ุฃูˆ ูŠุณุชุฑุฌุน ุงู„ุซู…ู† ูƒุงู…ู„ุง، ูˆู„ุง ูŠุญู‚ ู„ู„ุจุงุฆุน ุงุณู‚ุงุท ุญู‚ ุงู„ู…ุดุชุฑูŠ ุจู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุนุจุงุฑุงุช.


"Barang yang dibeli tidak boleh dikembalikan atau ditukar" adalah ungkapan yang diumumkan oleh sebagian toko, yang semacam ini secara jika secara mutlak merupakan syarat yang batil, karena pembeli jika menjumpai barang yang dibelinya memiliki aib boleh baginya untuk mengembalikannya untuk meminta ganti atau meminta kembali uangnya secara utuh, dan penjual tidak berhak untuk menggugurkan hak pembeli dengan ungkapan semacam ini!


______


๐Ÿ“š Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta', jilid 3 hlm. 197


๐ŸŒ Web | shahihfiqih.com/hukum-barang-yang-sudah-dibeli-tidak-boleh-dikembalikan-atau-ditukar/



๐Ÿ“•๐Ÿ“–....................✍๐Ÿป

⚠️ LARANGAN BERJUAL BELI DI DALAM MASJID

Tidak ada komentar:

 



Ⓜ️edia Sunnah Nabi


⚠️ LARANGAN  BERJUAL BELI DI DALAM MASJID


Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu Rasulullah ๏ทบ bersabda :


ุฅِุฐَุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ْ ู…َู†ْ ูŠَุจِูŠุนُ ุฃَูˆْ ูŠَุจْุชَุงุนُ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู„َุง ุฃَุฑْุจَุญَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชِุฌَุงุฑَุชَูƒَ


"Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka ucapkanlah: Semoga Allah ๏ทป tidak memberikan laba dalam perdaganganmu"


_______


๐Ÿ“š HR at-Tirmidzi dan anNasaai, dinyatakan shahih sesuai syarat Muslim oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahaby

⚠️ IMAN KEPADA QADAR TAKDIR BAIK DAN BURUK

Tidak ada komentar:

 Ⓜ️edia Sunnah Nabi


⚠️ IMAN KEPADA QADAR TAKDIR BAIK DAN BURUK 


Oleh :

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ 


Golongan yang selamat, Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman kepada qadar yang baik maupun buruk. Iman kepada qadar meliputi iman kepada setiap nash tentang qadar serta tingkatannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak ketetapan Allah Azza wa Jalla. 


Iman kepada qadar memiliki empat tingkatan:


Pertama: Al-‘Ilmu (Ilmu)Yaitu, mengimani bahwa Allah dengan ilmu-Nya, yang merupakan Sifat-Nya yang azali dan abadi, Allah Mahamengetahui semua yang ada di langit dengan seluruh isinya, juga semua yang ada di bumi dengan seluruh isinya, serta apa yang ada di antara keduanya, baik secara global maupun secara rinci, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Mahamengetahui tentang daun yang kering ataupun basah, biji-bijian yang tumbuh dan lainnya. Allah Mahamengetahui semua yang ghaib dan Dia Mahamengetahui segala amal perbuatan makhluk-Nya, serta mengetahui segala ihwal mereka, seperti taat, maksiat, rizki, ajal, bahagia dan celaka.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


 ูˆَุนِู†ุฏَู‡ُ ู…َูَุงุชِุญُ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ู„َุง ูŠَุนْู„َู…ُู‡َุง ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ۚ ูˆَูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ْุจَุฑِّ ูˆَุงู„ْุจَุญْุฑِ ۚ ูˆَู…َุง ุชَุณْู‚ُุทُ ู…ِู† ูˆَุฑَู‚َุฉٍ ุฅِู„َّุง ูŠَุนْู„َู…ُู‡َุง ูˆَู„َุง ุญَุจَّุฉٍ ูِูŠ ุธُู„ُู…َุงุชِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู„َุง ุฑَุทْุจٍ ูˆَู„َุง ูŠَุงุจِุณٍ ุฅِู„َّุง ูِูŠ ูƒِุชَุงุจٍ ู…ُّุจِูŠู†ٍ 

 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Mahamengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam/6: 59]


Kedua: Al-Kitaabah (Penulisan) Yaitu, mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat seluruh taqdir makhluk di al-Lauhul Mahfuzh.


 ูƒَุชَุจَ ุงู„ู„ู‡ُ ู…َู‚َุงุฏِูŠْุฑَ ุงู„ْุฎَู„ุงَุฆِู‚ِ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَุฎْู„ُู‚َ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงْู„ุฃَุฑْุถَ ุจِุฎَู…ْุณِูŠْู†َ ุฃَู„ْูَ ุณَู†َุฉٍ.


Allah telah mencatat seluruh taqdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[1] 


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


 ุฅِู†َّ ุฃَูˆَّู„َ ู…َุง ุฎَู„َู‚َ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„ْู‚َู„َู…َ، ู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ: ุงُูƒْุชُุจْ! ู‚َุงู„َ: ุฑَุจِّ ูˆَู…َุงุฐَุง ุฃَูƒْุชُุจُ؟ ู‚َุงู„َ: ุงُูƒْุชُุจْ ู…َู‚َุงุฏِูŠْุฑَ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ุญَุชَّู‰ ุชَู‚ُูˆْู…َ ุงู„ุณَّุงุนَุฉُ.


Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Ia menjawab: ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah taqdir segala sesuatu sampai hari Kiamat.’”[2] 


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


 ุฃَู„َู…ْ ุชَุนْู„َู…ْ ุฃَู†ّ

َ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ۗ ุฅِู†َّ ุฐَٰู„ِูƒَ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจٍ ۚ ุฅِู†َّ ุฐَٰู„ِูƒَ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูŠَุณِูŠุฑٌ 


“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” [Al-Hajj/22: 70]


 ู…َุง ุฃَุตَุงุจَ ู…ِู† ู…ُّุตِูŠุจَุฉٍ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู„َุง ูِูŠ ุฃَู†ูُุณِูƒُู…ْ ุฅِู„َّุง ูِูŠ ูƒِุชَุงุจٍ ู…ِّู† ู‚َุจْู„ِ ุฃَู† ู†َّุจْุฑَุฃَู‡َุง ۚ ุฅِู†َّ ุฐَٰู„ِูƒَ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูŠَุณِูŠุฑٌ


Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [Al-Hadiid/57: 22] 


Oleh karena itu, apa yang telah ditaqdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditaqdirkan tidak mengenai manusia, maka tidak akan mengenainya, sudah kering tinta pena itu dan sudah ditutup catatan.[3] 


Takdir ini mengikuti ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik secara global maupun rinci. Pertama bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat dalam al-Lauhul Mahfuzh, segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sedangkan, apabila Allah menciptakan janin ketika mencapai 4 bulan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus kepadanya seorang Malaikat yang diperintahkan untuk mencatat 4 (empat) hal, yaitu tentang rizkinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagia.[4] 


Kemudian, yang harus diketahui oleh setiap Muslim bahwa kita wajib mengimani qadha’ dan qadar yang baik dan buruk, manis dan pahit. Qadha’ dan qadar merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seorang pun dari makhluk-Nya. Dan kewajiban kita adalah mengimani dan beramal sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. 


Ketiga: Al-Masyii-ah (Kehendak)Yaitu, bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua gerak-gerik yang terjadi di langit dan di bumi hanyalah dengan kehendak Allah Subhanahu wa Taala, tidak ada sesuatu yang terjadi dalam kerajaan-Nya apa yang tidak diinginkan-Nya. Mengimani masyiiah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti terlaksana dan qudrah (kekuasaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi segala sesuatu. Tentang hal ini terdapat untaian sya’ir Imam asy-

Syafi’i rahimahullah:


 ู…َุง ุดِุฆْุชَ ูƒَุงู†َ ูˆَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุฃَุดَุฃْ ูˆَู…َุง ุดِุฆْุชُ ุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุชَุดَุฃْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ. ุฎَู„َู‚ْุชَ ุงู„ْุนِุจَุงุฏَ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุนَู„ِู…ْุชَ ูَูِูŠ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ูŠَุฌْุฑِูŠ ุงู„ْูَุชَู‰ ูˆَุงู„ْู…ُุณِู†ْ. ุนَู„َู‰ ุฐَุง ู…َู†َู†ْุชَ ูˆَู‡َุฐَุง ุฎَุฐَู„ْุชَ ูˆَู‡َุฐุงَ ุฃَุนَู†ْุชَ ูˆَุฐَุง ู„َู…ْ ุชُุนِู†ْ. ูَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุดَู‚ِูŠٌّ ูˆَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุณَุนِูŠْุฏٌ ูˆَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู‚َุจِูŠْุญٌ ูˆَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุญَุณَู†ٌ. Apa 


yang Engkau kehendaki pasti terjadi, kendati aku tidak menghendakinya. Sedang apa yang aku kehendaki, jika tidak Engkau kehendaki pastilah tidak terjadi. Telah Engkau ciptakan hamba-hamba, sesuai dengan apa yang Engkau ketahui. Di dalam ilmu berlangsung kehidupan, orang muda dan orang tua. Kepada ini, Engkau anugerahkan, dan ini, Engkau terlantarkan. Ini, Engkau tolong, dan ini, tidak Engkau tolong. Di antara mereka ada celaka, dan di antara mereka ada bahagia. Di antara mereka ada yang buruk, dan di antara mereka ada pula yang baik.[5] 


Allah adalah Mahaadil dan Mahabijaksana, Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia menahan dari siapa pun yang Dia kehendaki, Allah memberi kekuasaan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa pun yang dikehendaki-Nya.


Allah al-‘Aliim al-Hakiim al-Qadiir berfirman:


 ู‚ُู„ِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู…َุงู„ِูƒَ ุงู„ْู…ُู„ْูƒِ ุชُุคْุชِูŠ ุงู„ْู…ُู„ْูƒَ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชَู†ุฒِุนُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒَ ู…ِู…َّู† ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชُุนِุฒُّ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชُุฐِู„ُّ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ۖ ุจِูŠَุฏِูƒَ ุงู„ْุฎَูŠْุฑُ ۖ ุฅِู†َّูƒَ ุนَู„َู‰ٰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ ุชُูˆู„ِุฌُ ุงู„ู„َّูŠْู„َ ูِูŠ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑِ ูˆَุชُูˆู„ِุฌُ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑَ ูِูŠ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ۖ ูˆَุชُุฎْุฑِุฌُ ุงู„ْุญَูŠَّ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َูŠِّุชِ ูˆَุชُุฎْุฑِุฌُ ุงู„ْู…َูŠِّุชَ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَูŠِّ ۖ ูˆَุชَุฑْุฒُู‚ُ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ุจِุบَูŠْุฑِ ุญِุณَุงุจٍ 


Katakanlah: ‘Wahai Rabb Yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki atas siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” [Ali ‘Imran/3: 26-27] 


Allah al-Haadi berfirman:


 ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ูŠَุฏْุนُูˆ ุฅِู„َู‰ٰ ุฏَุงุฑِ ุงู„ุณَّู„َุงู…ِ

 ูˆَูŠَู‡ْุฏِูŠ ู…َู† ูŠَุดَุงุกُ ุฅِู„َู‰ٰ ุตِุฑَุงุทٍ ู…ُّุณْุชَู‚ِูŠู…ٍ


Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” [Yunus/10: 25] 


Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya. 


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


 ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَุฐَّุจُูˆุง ุจِุขูŠَุงุชِู†َุง ุตُู…ٌّ ูˆَุจُูƒْู…ٌ ูِูŠ ุงู„ุธُّู„ُู…َุงุชِ ۗ ู…َู† ูŠَุดَุฅِ ุงู„ู„َّู‡ُ ูŠُุถْู„ِู„ْู‡ُ ูˆَู…َู† ูŠَุดَุฃْ ูŠَุฌْุนَู„ْู‡ُ ุนَู„َู‰ٰ ุตِุฑَุงุทٍ ู…ُّุณْุชَู‚ِูŠู…ٍ 


Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” [Al-An’aam/6: 39][6] 


Dalil dari As-Sunnah:


 ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุฐَุฑٍّ ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ، ุนَู†ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุชَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰ ู‚َุงู„َ: ูŠَุง ุนِุจَุงุฏِูŠ ุฅِู†ِّูŠْ ุญَุฑَّู…ْุชُ ุงู„ุธُّู„ْู…َ ุนَู„َู‰ ู†َูْุณِูŠْ ูˆَุฌَุนَู„ْุชُู‡ُ ุจَูŠْู†َูƒُู…ْ ู…ُุญَุฑَّู…ุงً ูَู„ุงَ ุชَุธَุงู„َู…ُูˆْุง 


Dari Abu Dzarr al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Allah


 ุชَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰, 


Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap Diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi…[7] 


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


 ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุนَุฐَّุจَ ุฃَู‡ْู„َ ุณَู…َุงูˆَุงุชِู‡ِ ูˆَุฃَู‡ْู„َ ุฃَุฑْุถِู‡ِ ู„َุนَุฐَّุจَู‡ُู…ْ ูˆَู‡ُูˆَ ุบَูŠْุฑُ ุธَุงู„ِู…ٍ ู„َู‡ُู…ْ ูˆَู„َูˆْ ุฑَุญِู…َู‡ُู…ْ ู„َูƒَุงู†َุชْ ุฑَุญْู…َุชُู‡ُ ุฎَูŠْุฑุงً ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุฃَุนْู…َุงู„ِู‡ِู…ْ… 


Jika seandainya Allah menyiksa seluruh penghuni langit dan bumi, maka Allah tidak berbuat zhalim dengan menyiksa mereka. Jika seandainya Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya itu benar-benar lebih baik bagi mereka dari amal perbuatannya…”[8] 


Keempat: Al-Khalq (Penciptaan) Yaitu, bahwa Allah Maha Pencipta atas segala sesuatu, baik yang ada maupun yang belum ada. Oleh karena itu, tidak ada satu makhluk pun di bumi atau di langit, melainkan Allah-lah yang menciptakannya, tiada pencipta selain Dia, tidak ada ilah melainkan hanya Allah saja. 


Sebagaimana firman-Nya:


 ู„َّู‡ُ ุฎَุงู„ِู‚ُ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ 

ۖ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ٰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ูˆَูƒِูŠู„ٌ 


Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” [Az-Zumar/39: 62] 


Meskipun segala sesuatu yang ada telah Allah taqdirkan, akan tetapi Allah tetap memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk taat kepada-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya, serta melarang mereka durhaka kepada-Nya. Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, berbuat baik, berlaku adil, dan meridhai orang-orang yang beriman lagi beramal shalih. Akan tetapi Allah tidak mencintai orang-orang kafir, tidak meridhai orang-orang fasiq, Allah tidak memerintahkan untuk berbuat keji, tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya dan tidak menyukai kerusakan. 


Manusialah yang benar-benar melakukan suatu perbuatan, sedangkan Allah yang menciptakan perbuatan mereka itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


 ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ูˆَู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ


Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” [Ash-Shaaffaat/37: 96] 


Manusia dan jin ada yang Mukmin, ada yang kafir, ada yang taat, ada yang maksiat, ada yang shalat, ada pula yang tidak shalat, ada yang bersyukur, dan ada juga yang tidak. Manusia mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka, serta mereka pun mempunyai keinginan. Tetapi Allah-lah yang menciptakan mereka serta menciptakan kekuasaan (kemampuan) dan keinginan mereka itu, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


 ู„ِู…َู† ุดَุงุกَ ู…ِู†ูƒُู…ْ ุฃَู† ูŠَุณْุชَู‚ِูŠู…َ ูˆَู…َุง ุชَุดَุงุกُูˆู†َ ุฅِู„َّุง ุฃَู† ูŠَุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ 


Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwir/81: 28-29]


Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: 


ูˆَู…َุง ุชَุดَุงุกُูˆู†َ ุฅِู„َّุง ุฃَู† ูŠَุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ۚ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุนَู„ِูŠู…ًุง ุญَูƒِูŠู…ًุง 


Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”[Al-Insaan/76: 30] 


Tingkatan-tingkatan qadar ini diingkari oleh seluruh golongan Qadariyyah, yang mereka disebut oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Majusi ummat ini.[9] 


Qadariyyah dikatakan sebagai Majusinya ummat ini, karena keyakinan dan pendapat mereka menyerupai agama Majusi tentang adanya dua sumber, yaitu cahaya dan kegelapan. Mereka menyangka bahwa kebaikan berasal dari perbuatan cahaya sedangkan kejelekan berasal dari kegelapan. Begitu pula Qadariyah, mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah dan menyandarkan kejelekan kepada manusia dan syaithan. Padahal Allah menciptakan keduanya secara bersamaan. Tidak akan terjadi sesuatu dari keduanya melainkan dengan kehendak Allah, keduanya disandarkan kepada-Nya tentang penciptaan dan kejadiannya. Dan disandarkan kepada orang yang melakukannya sebagai perbuatan dan usaha manusia.[10]


Ada juga sebagian golongan yang berlebih-lebihan dalam masalah qadar ini, sampai-sampai mereka tidak mengakui adanya kekuasaan dan kebebasan dalam diri manusia, serta mereka menolak adanya hikmah serta maslahat dalam perbuatan dan ketentuan (hukum) Allah Subhanahu wa Ta’ala.[11]


Iraadah (keinginan) dan amr (perintah) yang tercantum di dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah ada dua macam: 


1. Iraadah Kauniyyah Qadariyyah[12] yang pengertiannya sama dengan masyii-ah, dan amr kauniy qadariy.[13]


2. Iraadah Syar’iyyah[14] yang berarti taqdir yang di-sukai dan dicintai oleh Allah dan amr syar’i.[15] 


Ahlus Sunnah menetapkan bahwa makhluk, dengan segala tingkah lakunya adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla. Hanya Dia-lah Sang Pencipta. Allah-lah yang menciptakan tingkah laku dan perbuatan mereka. Makhluk mempunyai keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya itu mengikuti keinginan dan kehendak al-Khaliq. Ahlus Sunnah menetapkan bahwa segala yang diperbuat Allah ada hikmahnya dan segala usaha akan membawa hasil atas kehendak Allah Azza wa Jalla.


Berdalih dengan taqdir boleh dilakukan terhadap musibah dan cobaan, namun tidak boleh sekali-kali berdalih dengan taqdir atas perbuatan dosa dan kesalahan. Orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat harus bertaubat dari perbuatan mereka yang tercela. 


Bersandar kepada usaha saja adalah termasuk syirik dalam tauhid, sedangkan meninggalkan usaha sama sekali berarti menolak ajaran agama. Pendapat yang menyatakan bahwa usaha tidak ada pengaruh dan hasilnya, merupakan pendapat yang bertentangan dengan ajaran agama dan akal. Sebab tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berarti meninggalkan usaha.[16] 


Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (wafat th. 321 H) rahimahullah berkata:


Taqdir adalah rahasia Allah yang tidak dapat diketahui oleh hamba-Nya. Tidak dapat diselidiki baik oleh Malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun Nabi yang diutus-Nya. Memberat-beratkan diri untuk menyelidiki hal itu adalah jalan menuju ke-hinaan, terhalangnya (ilmu) dan membawa kepada sikap melewati batas dan penyelewengan. Waspada dan berhati-hatilah terhadap seluruh pendapat, pemikiran dan bisikan-bisikan (yang jelek) tentang takdir tersebut. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menutup ilmu tentang takdir-Nya agar tidak diketahui oleh makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencoba menggapainya. Sebagaimana firman-Nya:


 ู„َุง ูŠُุณْุฃَู„ُ ุนَู…َّุง ูŠَูْุนَู„ُ ูˆَู‡ُู…ْ ูŠُุณْุฃَู„ُูˆู†َ 


Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan mereka-lah yang akan ditanyai.” [Al-Anbiyaa/21′: 23] 


Barangsiapa yang bertanya: “Kenapa Allah melakukannya? Kenapa Dia berbuat begini dan begitu?” Maka sungguh, ia telah menolak hukum dari Al-Qur-an. Dan barangsiapa yang menolak hukum Al-Qur-an, maka ia termasuk orang kafir[17]. 

..................................


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M] 


__ 



Footnote [1] HR. Muslim (no. 2653 (16)) dan at-Tirmidzi (no. 2156), Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557), dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma. Lafazh ini milik Muslim. [2] HR. Abu Dawud (no. 4700), Shahiih Abi Dawud (no. 3933), at-Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah (no. 180), Ahmad (V/317), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 577), dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, hadits ini shahih. [3] Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/293), at-Tirmidzi (no. 2516).


 Lihat pula Jaami’ul Uluum wal Hikam Syarah Arbain an-Nawawy oleh Ibnu Rajab (hadits no. 19). [4] HR. Al-Bukhari (no. 3208, 3332, 6594, 7454) dan Muslim (no. 2643), dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu [5] 


Lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/434) oleh Dr. Muham-mad bin ‘Abdil Wahhab al-‘Aqiil. Diiwan Imaam asy-Syafi’i (no. 215, hal. 397) syarah Muhammad ‘Abdurrahim, cet. Daarul Fikr, th. 1415 H. [6] Lihat juga QS. Al-An’aam/6: 125 dan at-Taghaabun/64: 2. [7] H.R. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 490), Shahiihul Adabil Mufrad (no. 377), Muslim (no. 2577), Ahmad (V/160), al-Hakim (IV/241), al-Baihaqi (VI/ 93), Ibnu Hibban (II/82 no. 618), at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban. [8] HR. Abu Dawud (no. 4699), Ibnu Majah (no. 77), Ahmad (V/185). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 3932), dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu. [9] 


Qadariyah adalah Majusi ummat ini, bila mereka sakit jangan dijenguk, jika mati jangan diiringi jenazahnya. 


Diriwayatkan oleh Ahmad (II/86), Abu Dawud (no. 4691), Ibnu Abi Ashim (no. 338), al-Hakim (I/85), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah (II/801 no. 381) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma. Syaikh al-Albany menghasankan hadits ini. 


Lihat Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 3925). [10] An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits wal Atsar (IV/299) oleh Ibnul Atsir.


 [11] Mereka adalah Jabariyah, berasal dari kata Jabr (terpaksa), yaitu semua dipaksa dan tidak ada kekuasaan dan kebebasan di dalam dirinya.


 Lihat Maqaalatul Islaamiyyiin (I/338), Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 186) oleh Khalil Hirras, tahqiq as-Saqqaf. [12] Iraadah Kauniyyah Qadariyah adalah kehendak yang berkenaan dengan takdir Allah terhadap alam semesta [13] 


Amr Kauni Qadari yaitu perintah yang berkenaan dengan takdir Allah terhadap alam semesta. Contohnya, firman Allah dalam surat Yaasiin/36: 82.


 [14] Iradah Syar’iyyah adalah kehendak yang berkenaan dengan syariat atau apa yang dicintai Allah dalam agama. [15] Amr syar’i yaitu perintah yang berhubungan dengan syari’at, seperti perintah tentang shalat, zakat, puasa, dan yang lainnya. [16] Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah (hal. 21-22). 


[17] Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 249), takhrij Syaikh al-Albani dan (hal. 320) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki


Ⓜ️edia Sunnah Nabi



๐Ÿ“•๐Ÿ“–....................✍๐Ÿป

 
back to top